Oleh: Selamat Purwanto
Malam 1 Suro selalu menghadirkan nuansa yang berbeda bagi masyarakat Nusantara. Bukan malam yang identik dengan kemeriahan, melainkan malam yang sarat makna, penuh perenungan, doa, rasa syukur, dan harapan. Di UPT Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, peringatan 1 Suro telah tumbuh menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan beragam latar belakang masyarakat dalam sebuah kegiatan yang bertema Kenduri Cinta Suro Nusantara.
Di tanah transmigrasi yang telah menjadi rumah bersama selama kurang lebih 17 tahun, masyarakat asal Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, warga lokal setempat, serta beberapa karyawan perusahaan kelapa sawit di sekitar wilayah UPT Kandan hidup berdampingan dalam suasana harmonis. Perbedaan asal-usul tersebut justru menjadi kekuatan yang mempererat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Diawali Kenduri Sederhana di RT 05 UPT Kandan
Sebelum pelaksanaan Kenduri Cinta Suro Nusantara yang diikuti seluruh masyarakat UPT Kandan pada malam hari, warga RT 05 terlebih dahulu menggelar kegiatan serupa dalam suasana yang lebih sederhana usai Salat Magrib.
Kegiatan yang digagas oleh tokoh spiritual masyarakat asal Jawa Barat Abah Dedi Kanang, berlangsung penuh kekeluargaan dan menjadi pembuka rangkaian peringatan 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah di UPT Kandan.
Dalam sambutannya, Abah Dedi Kanang menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat. Nikmat kesehatan, rezeki, keselamatan, serta kesempatan untuk tetap berada dalam iman Islam menjadi alasan utama masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama.

Menurutnya, peringatan 1 Suro bukanlah sekadar tradisi budaya, melainkan momentum untuk memperkuat hubungan manusia dengan Sang Pencipta sekaligus mengingat jasa para pendahulu yang telah membuka jalan kehidupan bagi generasi saat ini.
Beliau menjelaskan bahwa dalam tradisi yang dijalankan masyarakat, peringatan 1 Suro juga menjadi sarana mengirimkan doa kepada para leluhur. Doa tersebut ditujukan kepada para leluhur dan tokoh pemangku Bumi Borneo yang telah menjaga dan mewariskan tanah kehidupan bagi generasi sekarang. Selain itu, doa juga dipanjatkan kepada para leluhur yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, serta seluruh leluhur masyarakat yang kini hidup dan bermukim di UPT Kandan.
Abah Dedi Kanang menegaskan bahwa hakikat kegiatan tersebut adalah silaturahmi lahir dan batin. Silaturahmi kepada sesama warga yang hidup berdampingan dalam keberagaman budaya, sekaligus silaturahmi batin melalui doa kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam perjalanan kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, beliau juga menyampaikan rasa syukur dan penghormatan kepada para tokoh serta masyarakat Borneo, khususnya para pendahulu Desa Kandan, yang dengan kebesaran hati menerima masyarakat transmigran sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Sikap terbuka, tulus, dan ikhlas tersebut menjadi fondasi kuat terciptanya kehidupan yang harmonis antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang hingga saat ini.
Setelah penyampaian ujub atau ikrar yang menggunakan perpaduan bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama menurut syariat Islam. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama menikmati hidangan kenduri berupa ingkung ayam, tumpeng, buah-buahan, dan hasil panen masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SWT.
Ratusan Warga Berkumpul dalam Kenduri Cinta Suro Nusantara
Selasa malam, 16 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa, ratusan warga berkumpul di pelataran rumah Bapak Kasimo yang telah dipersiapkan dengan tratak sederhana sebagai lokasi pelaksanaan Kenduri Cinta Suro Nusantara.
Tepat pukul 20.00 WIB, masyarakat mulai memenuhi lokasi kegiatan. Hamparan terpal membentang luas di bawah cahaya lampu yang menerangi malam Borneo. Ratusan warga duduk bersila rapi membentuk lingkaran besar bak sebuah hajatan massal milik bersama.
Tidak ada kursi kehormatan, tidak ada sekat yang memisahkan masyarakat. Warga asal Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, warga lokal setempat, serta beberapa karyawan perusahaan kelapa sawit yang berada di sekitar wilayah UPT Kandan duduk bersama dalam satu lingkaran persaudaraan.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Panitia, Panggih, yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengajak seluruh warga untuk terus menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu sekaligus memperkuat persatuan dan kerukunan masyarakat.
Sambutan berikutnya disampaikan mewakili Pemerintah Desa Kandan oleh Bapak Taufiqurrohman. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat UPT Kandan.
Ia mengingatkan bahwa berbagai kemajuan yang telah dicapai masyarakat merupakan hasil kerja bersama. Semangat gotong royong, inovasi, dan swadaya masyarakat telah mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan warga, termasuk perbaikan jalan utama yang kini semakin baik dan nyaman dilalui.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, semangat kebersamaan, kekompakan, dan kemandirian yang selama ini tumbuh di UPT Kandan harus terus dipelihara sebagai modal sosial dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan di masa mendatang.
Doa, Sholawat, dan Wilujengan Keselamatan
Memasuki acara inti, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Bacaan Surat Yasin dan tahlil dipimpin oleh Ustad Widodo. Dengan penuh kekhusyukan, ratusan warga mengikuti lantunan ayat suci dan doa yang dipanjatkan untuk keselamatan, kesehatan, kemajuan kampung, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat UPT Kandan.
Rangkaian doa kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi Muhammad SAW yang dipimpin oleh Ustad Karim. Lantunan sholawat menggema di tengah malam, menghadirkan suasana religius yang menenangkan sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW.
Salah satu prosesi yang paling dinanti adalah ujuban atau ikrar adat Jawa yang disampaikan oleh tokoh masyarakat Jawa, Parlan. Dengan bahasa Jawa yang khas dan penuh makna, beliau menyampaikan wilujengan atau doa keselamatan bagi seluruh warga. Doa dipanjatkan agar masyarakat diberikan kesehatan, rezeki yang berkah, kehidupan yang tenteram, hasil panen yang melimpah, serta dijauhkan dari segala mara bahaya dan musibah.
Dalam tradisi Jawa, wilujengan berarti memohon keselamatan, ketenteraman, kesehatan, dan keberkahan hidup kepada Allah SWT. Karena itu, kenduri yang dilaksanakan masyarakat UPT Kandan sesungguhnya merupakan bentuk wilujengan bersama, yaitu ikhtiar batin masyarakat untuk memanjatkan doa bagi keluarga, kampung halaman, para leluhur, para pendahulu Bumi Borneo, serta generasi yang akan datang.
Melalui wilujengan, masyarakat diingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak hanya dibangun dengan kerja keras, tetapi juga dengan doa, rasa syukur, serta hubungan yang harmonis antar sesama manusia.
Belajar Filosofi Kehidupan dari Sajian Kenduri
Seluruh sajian yang hadir dalam kenduri sejatinya menjadi bagian dari wilujengan. Bukan karena makanan tersebut memiliki kekuatan tertentu, melainkan karena di dalamnya terkandung simbol-simbol doa, rasa syukur, kebersamaan, dan harapan baik yang diwariskan para leluhur sebagai media pembelajaran bagi generasi penerus.
Tumpeng yang diletakkan di tengah lingkaran warga bukan sekadar nasi berbentuk kerucut. Bentuknya yang menjulang ke atas mengingatkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semakin tinggi ilmu, jabatan, dan keberhasilan seseorang, semakin rendah hati pula ia harus bersikap.
Di samping tumpeng terdapat ingkung ayam yang menjadi salah satu hidangan utama. Dalam tradisi Jawa, ingkung melambangkan kepasrahan dan ketundukan kepada Tuhan. Melalui simbol ini, masyarakat diajak untuk selalu berserah diri kepada Allah setelah berikhtiar dan bekerja keras.
Pisang raja yang turut disajikan memiliki makna harapan akan kehidupan yang baik, berkecukupan, dan bermartabat.
Sementara aneka jajanan pasar mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan. Berbeda bentuk, warna, dan rasa, tetapi semuanya dapat tersaji bersama dalam satu wadah, sebagaimana masyarakat UPT Kandan yang berasal dari berbagai latar belakang namun hidup rukun dalam satu kampung.
Tak kalah menarik adalah sajian hasil bumi yang direbus sederhana seperti ketela pohon, ketela rambat, jagung, garut, waluh kuning, dan talas. Hidangan ini mengingatkan masyarakat pada akar kehidupan mereka sebagai petani.
Ketela pohon melambangkan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan. Ketela rambat mengajarkan kesederhanaan dan rasa syukur. Jagung menjadi simbol kecukupan pangan. Garut menggambarkan kemampuan beradaptasi. Waluh kuning melambangkan kesuburan dan keberlimpahan, sedangkan talas mengajarkan pentingnya akar yang kuat, yaitu tetap menjaga jati diri dan nilai-nilai kebaikan di mana pun berada.
Berbagai buah-buahan yang turut menghiasi kenduri menjadi lambang hasil dari kerja keras manusia. Sementara air kembang warna-warni dimaknai sebagai simbol kebersihan hati dan keharuman budi pekerti yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Harmoni yang Tumbuh di Tanah Borneo
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Kandan beserta jajaran perangkat desa, Ketua BPD dan anggota, para Ketua RW, seluruh Ketua RT se-UPT Kandan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh lapisan masyarakat UPT Kandan.
Lebih dari sekadar peringatan pergantian tahun Jawa dan Tahun Baru Islam, Kenduri Cinta Suro Nusantara telah menjadi simbol kehidupan masyarakat yang harmonis di kawasan transmigrasi.
Menjelang akhir acara, seluruh warga menikmati makan bersama. Ingkung ayam dibagikan kepada peserta, demikian pula jajanan pasar, pisang raja, buah-buahan, hasil panen masyarakat, serta teh hangat yang menemani obrolan penuh keakraban.
Dalam suasana sederhana namun penuh makna itu, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Semua larut dalam kehangatan persaudaraan yang telah tumbuh dan mengakar selama bertahun-tahun.
Bagi masyarakat UPT Kandan, Kenduri Cinta Suro Nusantara pada hakikatnya adalah sebuah wilujengan bersama. Sebuah ruang tempat doa, budaya, dan persaudaraan dipertemukan dalam suasana penuh kekeluargaan. Melalui wilujengan, masyarakat mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan, rezeki, dan kedamaian yang telah diberikan, sekaligus memohon keselamatan bagi kampung, keluarga, para pendahulu Bumi Borneo, serta generasi penerus yang akan melanjutkan perjalanan kehidupan.
Malam 1 Suro di UPT Kandan akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah tradisi. Ia adalah ruang silaturahmi, ruang syukur, ruang pembelajaran lintas generasi, sekaligus ruang untuk merawat akar budaya yang diwariskan para leluhur.
Dari sebuah tratak sederhana di pelataran rumah Pak Kasimo di Tanah Borneo, masyarakat asal Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, warga lokal setempat, serta para pendatang yang bekerja di sekitar kawasan UPT Kandan kembali menunjukkan wajah Nusantara yang sesungguhnya. Berbeda asal-usul, berbeda budaya, namun dipersatukan oleh nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kecintaan kepada tanah tempat berpijak, dan keimanan kepada Allah SWT.
Kenduri Cinta Suro Nusantara di UPT Kandan bukan sekadar perayaan pergantian tahun. Ia adalah wilujengan bersama untuk merawat akar, menyemai harmoni, dan meneguhkan persaudaraan Nusantara di Tanah Borneo.












