SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tanpa pemberitahuan kepada peserta dalam rangka Gladi Kesiapsiagaan Karhutla Tahun 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengukur kesiapan nyata personel dan peralatan saat menghadapi situasi darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan simulasi dibagi menjadi dua metode, yakni dengan skenario dan tanpa skenario.
Pada simulasi dadakan tersebut, peserta tidak mengetahui sebelumnya akan dilakukan latihan sehingga respons yang ditunjukkan mencerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan.
“Kami ingin mengetahui sejauh mana kesiapan personel maupun peralatan ketika menghadapi keadaan darurat. Karena itu ada gladi dengan skenario dan ada juga yang dilakukan tanpa skenario,” ujarnya usai kegiatan Gladi Kesiapsiagaan Karhutla di Stadion 29 November Sampit, Rabu 15 Juli 2026.
Berdasarkan evaluasi sementara, Multazam menilai kemampuan personel masih perlu ditingkatkan. Ia memberi nilai tiga dari skala lima terhadap hasil simulasi yang telah dilaksanakan.
“Kalau dinilai dari satu sampai lima, saya beri nilai tiga. Artinya masih ada beberapa hal yang harus dibenahi agar kesiapsiagaan semakin optimal,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan BPBD telah menerapkan standar waktu tanggap dalam setiap kejadian kebakaran. Sejak laporan diterima hingga personel bergerak menuju lokasi, waktu yang ditargetkan tidak lebih dari lima menit.
“Target kami, dari posko setelah menerima informasi, maksimal lima menit personel sudah berangkat menuju lokasi kejadian,” jelasnya.
Menurut Multazam, gladi kesiapsiagaan digelar bertepatan dengan meningkatnya potensi karhutla di Kotim. Bahkan sehari sebelumnya, petugas berhasil menangani lima titik kebakaran baru sehingga api tidak sempat meluas.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah perusahaan pemegang konsesi di Kotim. Masing-masing perusahaan menampilkan armada dan peralatan pemadaman yang dimiliki sebagai bentuk kesiapan menghadapi ancaman karhutla.
Ia menjelaskan sebagian besar peralatan yang dipamerkan merupakan milik perusahaan-perusahaan. Seluruh peralatan itu tetap ditempatkan di wilayah konsesi masing-masing agar dapat segera digunakan apabila terjadi kebakaran.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan seluruh pihak, termasuk perusahaan, benar-benar siap menghadapi musim kemarau dan potensi karhutla yang semakin meningkat,” pungkasnya. (Nardi)












