SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara H Asan Sampit memperkirakan musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2026.
Bahkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September, bergeser dari prakiraan sebelumnya yang diperkirakan berlangsung pada Agustus.
Kepala Stasiun BMKG Bandara H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, menjelaskan perubahan tersebut dipengaruhi pergeseran awal musim kemarau.
“Kondisi kering diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga penghujung Oktober sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan,” kata Leonardo, Senin 20 Juli 2026.
Seiring berlangsungnya musim kemarau, BMKG menyatakan seluruh 17 kecamatan di Kotim kini telah masuk kategori sangat mudah terbakar atau zona merah karhutla.
Kondisi ini dipicu minimnya curah hujan sejak pertengahan Juni yang disertai cuaca panas dan kelembapan udara yang rendah.
Menurutnya, kerawanan kebakaran awalnya terjadi di wilayah selatan sebelum meluas hingga mencakup seluruh kecamatan.
“Dalam kondisi lahan yang telah lama tidak diguyur hujan, api akan lebih cepat membesar dan menyebar apabila terjadi kebakaran,” ungkapnya.
BMKG juga memperkirakan peluang hujan dalam beberapa hari ke depan masih sangat kecil. Kalaupun terjadi hujan, sifatnya hanya lokal dengan intensitas ringan sehingga belum mampu menurunkan tingkat kerawanan karhutla secara signifikan.
Selain meningkatkan potensi kebakaran, arah angin yang saat ini dominan bertiup dari selatan hingga tenggara juga berpotensi membawa asap menuju Kota Sampit apabila karhutla di wilayah selatan terus meluas.
“Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit,” tambahnya.
Meski demikian, hasil pemantauan BMKG menunjukkan kondisi atmosfer di sekitar Stasiun BMKG Haji Asan Sampit masih relatif bersih dengan jarak pandang yang normal. Namun, pada malam hingga pagi hari mulai terindikasi penurunan jarak pandang karena kecepatan angin melemah sehingga asap cenderung bertahan di suatu wilayah.
Ia menjelaskan, saat siang hari angin umumnya bertiup lebih kencang sehingga asap lebih mudah berpindah ke wilayah lain. Sebaliknya pada malam hari, angin menjadi lebih tenang sehingga asap lebih mudah terakumulasi dan menyebabkan kabut asap terasa lebih pekat.
Selain itu BMKG juga mengingatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan pengguna perahu atau kapal berukuran kecil, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi gelombang di perairan selatan Kotim.
Dominasi angin timuran diperkirakan menyebabkan tinggi gelombang bertahan pada kisaran 1 hingga 1,5 meter selama Juli hingga Oktober.
“Ini cukup berbahaya bagi kapal nelayan berukuran kecil sehingga kami menyarankan nelayan menunda aktivitas melaut apabila cuaca tidak mendukung,” tegasnya.
Sementara itu, kapal berukuran besar seperti kapal penumpang masih dinilai aman beroperasi karena ambang peringatan bagi kapal tersebut berada pada tinggi gelombang di atas dua meter. (Nardi)












