Yayasan BOS: Tindak Tegas Pelanggar yang Membahayakan Masa Depan Orangutan!

-CEO Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation), Jamartin Sihite mengatakan, melakukan proses rehabilitasi intensif dan pelepasliaran yang kerap dilakukan oleh pihaknya sebagai jawaban untuk melestarikan orangutan dan habitatnya.

“Begitu ada orangutan lulus proses rehabilitasi, kami segera siapkan untuk dilepasliarkan. Sayangnya, dua situs pelepasliaran yang kami gunakan di semakin mendekati daya tampung maksimalnya,” katanya, Minggu (15/12/2019).

Menurut dia, Wilayah hutan di Hutan Lindung Bukit Batikap dan Taman Bukit Baka Bukit Raya tidak cukup untuk mengakomodasi semua orangutan yang masih pihaknya rehabilitasi saat ini. “Untuk sementara, kami berusaha mengantisipasi masalah ini dengan memanfaatkan seluruh wilayah di situs pelepasliaran,” jelasnya.

“Kami harus terus mencari hutan yang memenuhi syarat untuk situs pelepasliaran dan saya perlu menekankan perlunya penindakan lebih tegas terhadap pelanggar yang membahayakan masa depan orangutan dan habitatnya,” timpalnya.

Jamatin mengajak masyarakat ikut mencegah dan melindungi orangutan dari kepunahan. “Jangan sampai ada Warna dan Malee lain yang harus susah-payah kita repatriasi, lalu kita rehabilitasi, agar mereka bisa hidup sejahtera kembali di hutan,” katanya.

Seperti diketahui, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerjasama dengan Balai Taman Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), USAID LESTARI, dan Yayasan BOS melepas sejumlah Orangutan ke habitat alaminya di kawasan TNBBBR.

Diantara orangutan yang dilepasliarkan tersebut, satu betina dewasa bernama Suja beserta sepasang induk-anak bernama Warna dan Malee yang berhasil direpatriasi atau dipulangkan dari Thailand oleh pemerintah Indonesia tahun 2008 (Suja) dan 2015 (Warna dan Malee) lalu, telah siap kembali ke alam liar.

(gra/beritasampit.co.id)

baca juga ...  Kaget Liat Orangutan, Begini Pengakuan Guru di Kumai yang Baru Mengunjungi TNTP
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!