PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, menempati posisi ketiga secara nasional.
Sub sektor perkebunan menjadi penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalteng, dengan kontribusi sebesar 15-20 persen.
Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Kalteng, H. Rizky Ramadhana Badjuri, mengungkapkan bahwa dalam pembangunan sektor perkebunan, terdapat beberapa isu strategis yang menjadi perhatian.
Isu-isu tersebut mencakup status kawasan, regulasi, fasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar (FKPMS), gangguan usaha perkebunan dan konflik lahan, dana bagi hasil (DBH) sawit, serta diversifikasi dan penguatan komoditas unggulan non-sawit.
“Dari semua komoditas perkebunan Kalteng, harus kita akui bahwa kelapa sawit menempati posisi utama sebagai komoditas primadona. Berdasarkan data BPS Kalteng, PDRB provinsi ini sekitar 15-20 persen disumbang oleh sub sektor perkebunan, dengan sawit sebagai komoditas unggulan,” ujar Rizky di Palangka Raya, Kamis 27 Maret 2025.
Namun, meskipun sawit menjadi komoditas utama, Pemerintah Provinsi Kalteng juga mendorong diversifikasi tanaman perkebunan guna meningkatkan ketahanan sektor ini dan mengurangi ketergantungan pada satu komoditas saja.
Salah satu komoditas yang tengah dikembangkan adalah kakao, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Rizky menegaskan bahwa diversifikasi ini penting untuk memberikan alternatif bagi masyarakat dan pelaku usaha perkebunan.
Selain itu, penguatan komoditas unggulan non-sawit dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga sawit di pasar global serta permasalahan lingkungan dan sosial terkait industri kelapa sawit.
“Meskipun Kalteng dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil sawit terbesar ketiga di Indonesia, Pemprov Kalteng juga melakukan diversifikasi dan penguatan komoditas unggulan non-sawit, khususnya kakao. Ini merupakan langkah strategis agar sektor perkebunan tetap berkontribusi maksimal terhadap perekonomian daerah,” pungkasnya.
(Sya'ban)












