SAMPIT – Rencana aksi unjuk rasa di PT Pertamina Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), yang sempat ramai diberitakan terkait isu kelangkaan dan distribusi BBM serta gas elpiji subsidi, ternyata tidak terlaksana. Lokasi yang digadang-gadang menjadi titik kumpul massa justru lengang pada hari H, tanpa tanda-tanda adanya aksi.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sampit, Mohammad Rizqi Rachmandani, turut memberikan klarifikasi atas kabar tersebut. Ia menegaskan bahwa HMI tidak pernah merencanakan atau terlibat dalam aksi tersebut.
“Terkait rencana aksi yang viral beberapa waktu lalu dan direncanakan akan digelar di Pertamina Sampit, saya, Dani, selaku Ketua Umum HMI Cabang Sampit menyatakan bahwa kami tidak terlibat sama sekali dalam aksi tersebut,” tegasnya, Senin, 7 April 2025.
Dani menyebut, pihaknya bahkan tidak mengetahui siapa yang menginisiasi aksi itu dan merasa keberatan karena ada pihak yang mencatut nama mahasiswa Kotim tanpa sepengetahuan mereka.
“Saya akan klarifikasi terbuka kepada publik agar tidak ada kesalahpahaman kepada mahasiswa yang ada di Kotim. Saya juga sedang mencari tahu siapa dalang di balik aksi ini karena mencatut nama mahasiswa Kotim,” jelasnya.
Ia pun mengimbau seluruh pemuda dan mahasiswa agar tetap kritis namun bijak dalam merespons isu-isu daerah.
“Jangan mudah terbawa arus gerakan yang tidak jelas asal-usulnya atau tidak melalui mekanisme kolektif. Jika ada hal-hal yang memang perlu disuarakan, mari kita bahas bersama, terbuka, dan melalui jalur yang benar,” ujarnya.
Dani mengajak seluruh mahasiswa untuk menjaga nama baik serta identitas mereka agar tidak dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi.
Diberitakan sebelumnya rencana aksi unjuk rasa yang digagas oleh sekelompok mahasiswa dari Aliansi Pemuda Sampit di depan kantor PT Pertamina TBBM cabang Sampit pada Senin, 7 April 2025, batal terlaksana tanpa alasan yang jelas.
Aksi tersebut sebelumnya dikabarkan bertujuan untuk menyuarakan keresahan terkait distribusi BBM subsidi, non-subsidi, dan elpiji 3 kg.
Mereka juga mendesak PT Pertamina TBBM Sampit agar lebih serius dalam melakukan pengawasan distribusi agar tepat sasaran.
Namun kenyataannya, hingga waktu yang dijadwalkan, tak ada satu pun peserta aksi yang muncul di lokasi. Ketidakhadiran mereka pun menimbulkan pertanyaan dari publik, mengingat informasi soal rencana aksi sudah lebih dulu tersebar luas.
(Nardi)












