Inflasi Kalteng Selama Ramadan 1446 H Tertinggi di , Dipicu Kenaikan Tarif Listrik dan Harga Bumbu Dapur

IST/BERITASAMPIT - Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, memimpin Konferensi Pers Berita Resmi Statistik terkait Inflasi Kalteng Selama Ramadan 1446 Hijriah di Ruang Vicon Kantor BPS Provinsi Kalteng, Selasa 8 April 2025.

– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi (Kalteng) mencatat terjadinya inflasi sebesar 1,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y) pada Maret 2025.

Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata inflasi yang tercatat sebesar 1,07 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti, mengungkapkan hal tersebut dalam Konferensi Pers Berita Resmi Statistik yang digelar di Ruang Vicon Kantor BPS Provinsi Kalteng, Selasa 8 April 2025.

“Sedangkan untuk inflasi secara bulanan (month-to-month/m-t-m), mengalami inflasi sebesar 1,71 persen, juga berada di atas rata-rata yang sebesar 1,65 persen,” jelas Agnes.

Beberapa komoditas utama yang mendorong inflasi di Kalteng selama Ramadan antara lain tarif listrik (andil 1,30 persen), cabai rawit (0,15 persen), bawang merah (0,08 persen), emas perhiasan (0,04 persen), dan mie kering instan (0,03 persen).

Meski demikian, lanjut Agnes, terdapat pula sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi, seperti daging ayam ras (0,16 persen), bayam (0,03 persen), ikan nila dan ikan peda (masing-masing 0,02 persen), serta kangkung (0,01 persen).

Berdasarkan pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di empat kabupaten/kota di Kalteng, seluruhnya mengalami inflasi secara bulanan.

mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,07 persen, diikuti Sampit (1,77 persen), (1,69 persen), dan (1,59 persen).

“Komoditas yang dominan memberi andil inflasi di keempat wilayah tersebut tetap sama, yakni tarif listrik, cabai rawit, dan bawang merah,” ujar Agnes.

Tingginya inflasi selama Ramadan menurutnya dipicu oleh peningkatan permintaan terhadap bahan makanan, khususnya bumbu dapur seperti cabai dan bawang, akibat aktivitas konsumsi yang meningkat serta banyaknya pedagang musiman makanan berbuka puasa.

Agnes juga menyoroti naiknya harga bawang merah yang disebabkan menipisnya stok dari sentra produksi di Pulau Jawa, di mana belum memasuki masa panen dan hasil produksi terganggu curah hujan tinggi.

baca juga ...  FKDM Kalteng Dimnta Lebih Responsif Hadapi Dinamika Sosial

“Selain bahan makanan, emas perhiasan juga menyumbang inflasi akibat kenaikan harga emas dunia. Menjelang Lebaran, masyarakat cenderung membeli perhiasan sebagai bagian dari tradisi menyambut Hari Raya Idulfitri,” pungkasnya.

(Sya'ban)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!