PALANGKA RAYA – Udara pagi yang cerah di halaman Kantor Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Rabu, 16 April 2025, diwarnai semangat kolektif yang tak biasa.
Senam sehat, edukasi kesehatan, dan pemeriksaan gratis menyambut masyarakat yang hadir di acara puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) tingkat provinsi. Tapi, gema yang lebih dalam dari itu adalah ajakan untuk beraksi.
“Ini bukan sekadar acara seremonial. Ini panggilan untuk mengingatkan bahwa kita sedang menghadapi musuh lama yang kembali menjadi ancaman utama,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Riza Syahputra, saat membuka acara mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kalteng.
Musuh lama itu adalah tuberkulosis (TBC). Setelah badai COVID-19 berlalu, TBC kembali merebut posisi sebagai penyakit menular paling mematikan di dunia.
Indonesia menempati peringkat kedua setelah India, dengan lebih dari satu juta kasus baru dan 125 ribu kematian tiap tahun. Rata-rata, 14 orang meninggal setiap jam karena TBC.
Di Kalimantan Tengah, persoalannya bukan hanya penyakit, tapi bagaimana mengubah cara pandang dan memperkuat gerakan bersama.
“Kita sudah mulai melihat hasil. Kasus ditemukan lebih banyak, artinya kesadaran meningkat. Investigasi kontak mulai sistematis. Terapi pencegahan mulai diperluas,” kata Riza.
Tema tahun ini “GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis dengan Komitmen dan Aksi Nyata” tidak berhenti di spanduk.
Selama sebulan terakhir, Dinkes menggencarkan kampanye melalui berbagai media: videotron di Bundaran Besar dan Bandara Tjilik Riwut, talkshow radio, edukasi daring, hingga Temu Kader TBC yang mempertemukan penyintas, tenaga medis, dan penggerak komunitas.
“Penanggulangan TBC kini jadi prioritas nasional, diperkuat dengan Perpres Nomor 67 Tahun 2021,” ujar Riza.
Ia menyebutkan bahwa untuk mencapai eliminasi, kerja lintas sektor adalah keniscayaan. TBC bukan hanya urusan tenaga kesehatan.
Acara HTBS juga melibatkan berbagai unsur: pelajar, mahasiswa, organisasi profesi, mitra pembangunan, hingga warga biasa.
Dalam kegiatan ini, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat: kenali gejala, periksa dini, dan temani pasien hingga sembuh. Karena tanpa dukungan sosial, banyak penderita gagal menyelesaikan pengobatan yang panjang.
“Gerakan ini harus tumbuh dari bawah mulai dari keluarga, dari komunitas,” ucap Riza.
Ia menutup sambutan dengan ajakan membangun solidaritas kolektif, karena tak ada kebijakan yang lebih kuat dari masyarakat yang sadar dan peduli.
Dari Palangka Raya, gaung untuk mengakhiri TBC itu menyebar. Tak lagi hanya lewat slogan, tapi melalui aksi yang dibangun dari semangat gotong royong khas Indonesia untuk masa depan tanpa TBC.
(Sya'ban)












