PALANGKA RAYA – Bundaran Besar yang kini menjadi ikon baru Kota Palangka Raya bakal segera memiliki nama resmi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tengah menyiapkan sayembara terbuka bagi masyarakat untuk memberi nama pada monumen megah tersebut.
Monumen setinggi 45 meter dengan desain khas arsitektur Talawang yang berdiri megah di pusat Bundaran Besar itu selama ini belum memiliki nama. Keberadaannya menarik perhatian warga dan menjadi simbol kebanggaan baru bagi kota.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kalteng, Shalahuddin, mengungkapkan bahwa ada dua opsi yang sedang dipertimbangkan.
“Mungkin akan dirapatkan dengan DPRD atau disayembarakan. Nanti juga akan dikoordinasikan dengan Gubernur,” kata Shalahuddin saat ditemui Berita Sampit di Bundaran Besar Palangka Raya, Senin, 21 April 2025.
Bundaran Besar Palangka Raya sedang berbenah. Pemerintah provinsi tengah menata ulang kawasan itu lewat proyek pembangunan dua Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berdiri di lahan eks Gedung KONI dan eks Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Total anggaran yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai sekitar Rp100 miliar. Meski pemerintah pusat mendorong efisiensi, anggaran pembangunan dua RTH ini tidak dipangkas.
“Tidak ada efisiensi. Ini proyek di kota, jadi agak susah. Target kita, Desember nanti sudah bisa difungsikan,” ujar Shalahuddin.
Ia merinci, anggaran RTH di eks Gedung KONI sebesar Rp43 miliar dan di eks Disnakertrans mencapai Rp57 miliar. Proses kontrak baru dimulai pekan ini, dengan target seluruh pengerjaan rampung akhir tahun.
“Untuk RTH di eks Gedung KONI, kontraknya baru ditandatangani Selasa atau Rabu. Saat ini kontraktor sedang melakukan pembongkaran,” jelasnya.
Selain dua ruang terbuka, Bundaran Besar juga dilengkapi monumen Talawang setinggi 45 meter yang dilengkapi lift.
Jika proyek RTH selesai tepat waktu, Bundaran Besar akan diresmikan, sehingga warga bisa menikmati panorama Kota Palangka Raya dari ketinggian.
Penamaan ikon baru ini disebut penting untuk memperkuat identitas kultural ibu kota provinsi.
Talawang, sebagai simbol perisai masyarakat Dayak, diyakini mampu merepresentasikan karakter dan kearifan lokal Kalimantan Tengah.
Jika semua berjalan sesuai jadwal, Bundaran Besar tak lagi sekadar simpul lalu lintas. Ia akan menjelma menjadi ruang publik yang hidup dan representatif, sekaligus penanda baru wajah ibu kota.
(Sya'ban)












