PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan angka inflasi daerah per April 2025 masih dalam kategori aman.
Hal ini disampaikan Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar secara virtual, Senin, 5 Mei 2025.
“Inflasi kita 1,21 persen (y-o-y), masih di bawah angka inflasi nasional,” kata Yuas di Ruang Rapat Bajakah, Kantor Gubernur Kalteng.
Rakor rutin yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, itu bertujuan memantau dan mengevaluasi perkembangan inflasi di seluruh daerah.
“Kami berharap daerah-daerah yang tinggi angka inflasinya bisa menjelaskan upaya yang dilakukan dan kendala yang dihadapi,” ujar Tomsi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional pada April 2025 mencapai 1,17 persen secara bulanan (m-t-m) dan 1,95 persen secara tahunan (y-o-y).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Pudji Ismartini, menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang inflasi terbesar ketiga.
“Komoditas utama penyumbang inflasi April adalah bawang merah, cabai merah, tomat, bawang putih, dan jeruk,” kata Pudji. Di sisi lain, inflasi ditahan oleh turunnya harga cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Menurut data BPS, harga bawang merah turun 6,11 persen, cabai merah 5,06 persen, dan cabai rawit 15,30 persen hingga awal Mei.
Minyak goreng jenis minyakita juga mengalami penurunan harga 0,21 persen, sedangkan gula pasir turun 0,08 persen.
Meski inflasi Kalteng masih dalam batas wajar, Yuas menekankan perlunya kewaspadaan. Ia meminta agar seluruh perangkat daerah terus memantau dinamika harga dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Kita harapkan sinergisitas terus terjalin antara Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Bulog,” ujarnya.
Rakor juga diikuti unsur Forkopimda, kepala instansi vertikal, kepala perangkat daerah terkait, serta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Tengah.
(Sya'ban)












