SAMPIT – Bangunan pasar mangkrak di sejumlah kecamatan di Kotawaringin Timur (Kotim) yang hingga kini belum berfungsi sebagaimana mestinya mulai menuai sorotan.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMPP) Kotim Johny Tangkere mengungkapkan situasi ini menjadi pelajaran penting tentang perlunya perencanaan pembangunan pasar yang matang dan menyesuaikan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kotim.
Dinas KUKMPP sedang melakukan pendataan ulang terhadap proyek-proyek pasar yang dinilai mangkrak tersebut.
“Kami sedang mendata kembali aset dan barang-barang yang masih ada di dalam pasar. Kalau memang tidak difungsikan sebagaimana mestinya, akan kami kaji ulang pemanfaatannya, apakah bisa dioptimalkan atau dialihkan,” ungkap Johny, Selasa, 20 Mei 2025.
Johny menyebutkan salah satu yang menjadi contoh adalah pasar di Kecamatan Kota Besi, lokasi tersebut kurang diminati karena sebelumnnya belum ada Bundaran Nanas, namun ketika sudah ada Bundaran Nanas yang membuat semakin tumbuh warung-warung kecil bahkan retail modern dan aktivitas perdagangan lainnya tumbuh ramai disitu.
Sehingga mengurangi minat warga untuk menuju pasar, bisa saja karena perencanaan kurang matang sehingga banyak proyek pasar yang mangkrak.
“Ketika saya masih di PTSP (Dinas Perizinan), saya tidak izinkan pembangunan ritel modern di kecamatan-kecamatan, hanya bisa di jalur nasional tempat mobil-mobil singgah,” tegasnya.
Seiring dengan proses pendataan, pihaknya berencana melakukan kajian lebih lanjut mengenai kelanjutan fungsi bangunan-bangunan pasar tersebut.
Jika tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai pasar, bisa jadi akan difungsikan untuk keperluan lainnya yang lebih sesuai kebutuhan masyarakat.
Sejumlah bangunan proyek pasar yang tidak fungsional diketahui seperti di Kecamatan Kotabesi, Mentaya Hulu, Telawang, Mentaya Hilir Utara, hingga kawasan perkotaan Sampit.
Bangunan pasar yang terbengkalai itu dinilai masyarakat merugikan secara ekonomi dan menimbulkan kesan pemborosan anggaran.
(Nardi)












