JAKARTA– Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Alimudin Kolatlena, menegaskan komitmennya untuk mendukung visi misi “Sapta Cita Lawamena” Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa guna mempercepat penanganan defisit tenaga pengajar dan ketimpangan distribusi guru di wilayah kepulauan Maluku.
Pernyataan ini disampaikan Kolatlena sebagai wujud sinergi dengan upaya pemerintah provinsi untuk memajukan pendidikan di Provinsi Maluku.
Apalagi baru baru ini, Rektor Universitas PGRI Malang (Unikama), Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., bersama organisasi masyarakat Garda Satu melakukan audiensi dengan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa di Ambon guna berkolaborasi mendukung pembangunan SDM di Maluku lewat sektor pendidikan.
Alimudin menyoroti tantangan pendidikan di Maluku, provinsi dengan 1.340 pulau dan 92,4% wilayahnya berupa lautan. Banyak sekolah di pulau-pulau kecil hanya memiliki satu atau dua guru untuk semua mata pelajaran, bahkan ada yang tanpa guru tetap.
“Pendidikan adalah kunci masa depan Maluku. Kami berkomitmen mempercepat upaya Gubernur Hendrik Lewerissa melalui Sapta Cita Lawamena agar setiap anak di pulau terpencil mendapat pendidikan berkualitas,” ujar Kolatlena Minggu 20 Juli 2025.
Sapta Cita Lawamena Gubernur Hendrik menjadikan pendidikan sebagai pilar utama untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing.
Kolatlena mendukung visi ini dengan mendorong percepatan solusi melalui tiga fokus utama yang selaras dengan Sapta Cita Lawamena:
Pertama, Peningkatan Kapasitas Guru Lokal
Sejalan dengan komitmen Lewerissa untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, Kolatlena menekankan perlunya percepatan pelatihan guru lokal.
Kolatlena mengatakan program pelatihan intensif bagi pemuda Maluku untuk menjadi tenaga pendidik profesional harus diprioritaskan.
“Dengan fokus pada teknologi pendidikan, metode pengajaran adaptif untuk daerah kepulauan, dan pemahaman budaya lokal,” beber Kolatlena.
Kerja sama beberapa universitas di Indonesia akan dipercepat untuk menyediakan beasiswa dan pelatihan guna menghasilkan guru yang sesuai dengan kebutuhan Maluku.
“Guru yang memahami konteks lokal akan membuat pembelajaran lebih efektif. Kita harus segera wujudkan ini,” kata Kolatlena.
Kedua, Pemerataan Distribusi Guru melalui Dukungan Logistik
Mengacu pada fokus Sapta Cita Lawamena untuk meningkatkan konektivitas antar pulau, Kolatlena mendorong percepatan pemerataan distribusi guru ke wilayah terpencil, seperti Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, dan Tanimbar.
Mantan Anggota DPRD Provinsi Maluku ini bilang dukungan logistik, seperti transportasi laut atau udara, serta insentif berupa tunjangan daerah terpencil dan asuransi kesehatan sangat penting untuk mendorong guru mengabdi di pulau-pulau kecil.
Artinya, lanjut Kolatlena, inisiatif ini mendukung rencana Lewerissa untuk memperbaiki infrastruktur transportasi guna memperlancar mobilitas sumber daya manusia.
“Harapannya para guru bisa menjangkau sekolah terpencil dengan dukungan yang memadai,” ujar Kolatlena.
Ketiga, Modernisasi Infrastruktur Pendidikan
Untuk mendukung reformasi infrastruktur pendidikan dalam Sapta Cita Lawamena, Kolatlena menyoroti pentingnya percepatan modernisasi melalui teknologi.
Alimudin mengatakan penyediaan perangkat seperti tablet, proyektor, dan akses internet berbasis satelit di sekolah-sekolah terpencil diprioritas guna mendukung pembelajaran daring dan akses ke materi pendidikan digital.
Mengingat, kata Kolatlena, pelatihan guru untuk menggunakan platform digital juga dapat meningkatkan efektivitas pengajaran. “
“Saya kira teknologi adalah solusi cepat untuk pemerataan pendidikan. Anak-anak di pulau terluar harus segera mendapat kesempatan yang setara,” tegas Kolatlena, sejalan dengan visi Lewerissa untuk memodernisasi pendidikan.
Kolatlena optimistis bahwa percepatan upaya ini akan mengatasi krisis pendidikan di Maluku dan menjadi model bagi daerah kepulauan lain, seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua.
“Maluku adalah laboratorium tantangan kepulauan. Dengan percepatan ini, kami yakin bisa wujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas,” pungkas Alimudin Kolatlena.
(adista)












