SAMPIT – Warga Desa Bagandung, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat resah akibat terhentinya pasokan air bersih dari PDAM selama 12 hari terakhir. Kondisi ini dikeluhkan warga karena membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Sejak hampir dua pekan, kran di rumah-rumah warga tak lagi mengalirkan air. Keluhan pun datang dari berbagai wilayah, terutama di Desa Bagandung dan Kelurahan Samuda Kota yang menjadi daerah paling terdampak.
Kondisi ini dinilai meresahkan karena mengganggu kebutuhan sehari-hari, masyarakat merasa tidak mendapat kepastian kapan suplai air bisa normal. Bukan hanya itu, warga kerap kali mengalami air mati hampir setiap bulan terjadi.
Seorang warga Samuda, Kim mengatakan masalah ini kerap terjadi terutama di kawasan Samuda Kota khususnya daerah Bagandung. Ia menyebut, wilayahnya sering menjadi langganan terlambat mendapatkan aliran air.
“Kalau ada kerusakan, di daerah lain paling lama dua sampai tiga hari di salah satu rumah teman saya di Kelurahan Basirih Hilir sudah hidup, sementara di Bagandung bisa sampai lima atau enam hari baru mengalir. Padahal jaraknya hanya sekitar satu kilometer,” ucap Kim.
Dia mengaku sudah berusaha mencari tahu penyebab seringnya gangguan. Dari pertemuan dengan pimpinan PDAM Samuda, Budi, ia mendapat penjelasan bahwa masalah utama terletak pada kapasitas mesin pompa. Mesin yang berada di Bagendang dan Desa Rambang masih berdaya kecil, sehingga tidak memadai untuk mengalirkan air ke semua jalur pipa.
“Pihak PDAM mengatakan, jalur pipa dari Sungai Jejangkit hanya satu. Kalau katup dibuka, alirannya lebih kencang ke poros induk. Sementara yang ke arah Samuda bagian bawah atau pesisir pantai, lebih lambat sampai,” tuturnya.
Selain itu, aliran air kini juga terbagi karena pemerintah meminta PDAM menghidupkan pasokan ke penampungan di Desa Seijum Raya. Dengan kondisi mesin yang terbatas, suplai ke Samuda otomatis berkurang.
“Sudah diajukan untuk penambahan kapasitas mesin, tapi belum terealisasi. Jadi masyarakat tahunya air mati, dan komplainnya ke kami,” imbuhnya.
Faktor lain yang memperparah situasi adalah pasokan listrik yang tidak stabil di wilayah Bagendang maupun Rambang. Tegangan listrik yang turun membuat mesin pompa melemah sehingga distribusi air terganggu lagi meski baru saja normal.
“Begitu mau normal, tiba-tiba listrik drop, mesin terganggu. Distribusi yang mestinya lancar jadi terhambat lagi,” jelasnya
Warga Samuda berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah maupun PDAM untuk meningkatkan kapasitas mesin di penampungan. Mereka juga menyoroti persoalan kebocoran pipa yang kadang tak terdeteksi petugas.
“Harapannya ada perhatian serius, supaya pelayanan air bersih di Samuda bisa benar-benar membaik,” tandasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kotim, Rinie Anderson, meminta masyarakat yang mengalami persoalan layanan PDAM agar segera bersurat secara resmi.
Langkah ini dinilai penting agar setiap keluhan warga bisa tercatat dan menjadi dasar bagi DPRD dalam melakukan rapat dengar pendapat (RDP) bersama pihak PDAM maupun pemerintah daerah.
“Silakan warga bersurat secara resmi agar kami memiliki dasar yang kuat untuk menindaklanjuti dan memanggil pihak terkait. Kalau hanya disampaikan secara lisan, sering kali tidak terdokumentasi dengan baik,” kata Rinie.
Pihaknya siap menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, terutama terkait kebutuhan pokok seperti air bersih.
(Utomo)












