SAMPIT – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ajaran 2025/2026 resmi digelar, Selasa 30 September 2025. Total terdapat 100 siswa dari 13 kecamatan, terdiri dari 50 siswa SD dan 50 siswa SMA. Dari jumlah itu, 56 siswa laki-laki dan 44 siswa perempuan digelar selama dua pekan.
Wakil Bupati Kotim Irawati yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan harapan agar para siswa tekun belajar dan mampu bersosialisasi dengan baik dengan teman karena berasal dari kecamatan yang berbeda-beda.
Ia menekankan, meski para siswa tinggal di asrama dan hanya bisa dijenguk keluarga pada hari Minggu, sehingga mengajarkan mereka menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, gotong royong dan nilai-nilai kehidupan.
Pendidikan bukan sekadar membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi juga membangun karakter, gotong royong, empati, serta menghargai perbedaan. Kementerian Sosial RI memprioritaskan pembentukan karakter anak sejak dini, karena kecerdasan intelektual harus seimbang dengan kecerdasan emosional dan sosial.
Menurut Irawati, Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi nyata dalam memutus rantai kemiskinan. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kategori miskin ekstrem. Selain anak yang ditampung, orang tua juga akan mendapat dukungan berupa pelatihan keterampilan dan bantuan usaha, bukan dalam bentuk uang tunai, rumah yang tidak layak akan dibantu direhab pemerintah pusat.
“Ini bukan hanya sekolah, tetapi jembatan harapan. Kita ingin memastikan tidak ada satu pun anak di Kotim yang tertinggal dalam mendapatkan hak dasar pendidikan. Dengan kolaborasi semua pihak, Sekolah Rakyat diharapkan bisa menjadi model percontohan nasional,” lanjutnya.
Irawati menambahkan, upaya ini sejalan dengan program Presiden untuk menekan angka kemiskinan, lokasi Kotim sebagai sekolah rakyat sangat tepat, mengingat Kotim masih termasuk daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Kalteng.
Dirinya pun mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial, Dinas Sosial serta jajaran, camat, lurah, semua pihak yang terlibat sehingga Sekolah Rakyat Kotim bisa berdiri.
Ia berharap ke depan juga bisa terwujud sekolah unggulan dan Sekolah Garuda dibangun di Kotim, agar anak-anak berprestasi tidak perlu lagi keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan.
“Dengan semangat kebersamaan dan filosofi Rumah Betang, mari kita jadikan Sekolah Rakyat sebagai mercusuar pendidikan. Saya optimis langkah ini akan mencetak generasi emas 2045 yang cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing secara global,” pungkasnya.
Terlihat anak-anak Sekolah Rakyat senang bisa bersekolah dan mengenyam pendidikan, mereka sesekali berbincang dengan teman-teman mereka dan suasana akrab mulai terlihat diantara mereka. (nardi)












