PALANGKA RAYA – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Herson B. Aden, menegaskan bahwa upaya menurunkan angka kecelakaan lalu lintas tidak dapat dilakukan secara terpisah.
Menurutnya, keselamatan di jalan raya hanya bisa diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor yang solid dan pemanfaatan teknologi berbasis data dalam pengambilan keputusan.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pelaksanaan Rencana Aksi Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RAK LLAJ) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2025-2027, di Aula Bapperida Provinsi Kalteng, Rabu, 15 Oktober 2025.
Herson menjelaskan, keselamatan transportasi merupakan bagian dari prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025-2029, yang menekankan pentingnya penguatan konektivitas darat dan keselamatan lalu lintas.
Kebijakan nasional tersebut ditindaklanjuti Pemprov Kalteng melalui Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RAK LLAJ) yang berlaku hingga tahun 2027.
Dalam pelaksanaannya, RAK LLAJ Kalteng mengacu pada lima pilar utama, yakni sistem, jalan, kendaraan, pengguna, dan penanganan korban kecelakaan, dengan tanggung jawab lintas instansi mulai dari Bapperida, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Kepolisian Daerah, hingga Dinas Kesehatan.
“Kelima pilar ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tanpa koordinasi tidak akan ada hasil, tanpa kolaborasi tidak akan ada keselamatan. Sinergi semua pihak adalah kunci untuk menurunkan angka fatalitas di jalan,” ujar Herson.
Ia mengakui bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti terbatasnya sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, serta belum optimalnya peran Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Forum LLAJ) di sejumlah daerah. Namun, semangat bersama, kata Herson, harus menjadi penggerak perubahan.
“Saya percaya semangat kerja kita lebih besar dari hambatan yang ada. Kita tidak boleh menunggu perubahan, tetapi harus memimpin perubahan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Herson menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan data digital dalam meningkatkan efektivitas pengawasan keselamatan lalu lintas.
Data, menurutnya, dapat digunakan untuk mendeteksi titik rawan kecelakaan secara waktu nyata, mempercepat pelaporan, serta memperkuat evaluasi kebijakan di lapangan.
“Gunakan data dan teknologi untuk memantau lokasi rawan kecelakaan secara real-time. Laporkan dengan cepat, tangani dengan tepat, dan evaluasi dengan cermat. Itulah semangat kerja nyata untuk keselamatan bersama,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa keselamatan harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan dan program pemerintah, bukan sekadar indikator administratif. Keberhasilan upaya keselamatan tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, melainkan dari berkurangnya jumlah kecelakaan dan korban di jalan.
“Keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama. Satu langkah kecil hari ini bisa menyelamatkan banyak nyawa esok hari. Mari jadikan keselamatan jalan sebagai gerakan bersama antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat,” tutupnya.
(Sya'ban)












