SAMPIT – Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswa Sekolah Rakyat Kotawaringin Timur (Kotim) berinisial P (8) kini mulai menemukan titik terang. Meski sempat menjadi perhatian publik, pihak keluarga korban memilih untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan tanpa menempuh jalur hukum.
Di kediamannya yang sederhana, nenek korban, Aluh, menceritakan ulang pengakuan sang cucu tentang kejadian yang dialami di sekolah. Dengan nada lembut, ia mengisahkan bahwa P sempat mengaku dipukul oleh salah satu teman sekelasnya.
Menurut Aluh, cucunya sempat mengaku dipukul oleh salah seorang temannya di sekolah. “Saya tanya dia (P), katanya dipukul orang itu aja, waktu dia sedang makan,” ucap Aluh pada Selasa 21 Oktober 2025.
Ia mengaku sempat mencoba menanyakan lebih jauh tentang kejadian tersebut, termasuk alasan kenapa cucunya sampai dipukul. Namun, P tidak banyak bicara dan hanya diam.
“Aku tanya, kenapa sampai ditampar, dia cuma berdiam saja. Tidak tahu juga alasannya,” tambahnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa keluarganya tidak ingin memperpanjang masalah. Menurutnya, pihak sekolah dan pengasuh anak-anak selama ini sudah berusaha menjaga dengan baik.
“Kami tidak mau macam-macam. Tidak mau menyalahkan siapa-siapa, karena kan ini anak-anak,” ujarnya.
Aluh juga menegaskan, keluarga hanya ingin persoalan ini diselesaikan dengan cara baik-baik tanpa harus diusut lebih jauh.
“Kami cuma minta jangan sampai diusut aja, karena pengasuhnya sudah baik menjaga dia. Cuma ini kejadiannya di luar kamar pengasuhnya, bukan di dalam ruangan sekolah,” katanya.
Lebih lanjut ia juga menjelaskan tentang video beredar yang menunjukan P sedang muntah itu adalah karena saat itu P sedang sakit.
“Pas itu P sakit, makanya terlambat kembali ke sekolah,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Sekolah Rakyat, Nikkon Bhastari mengatakan bahwa P mengaku ingin segera kembali ke sekolah namun karena sedang sakit P jadi terlambat kembali ke sekolah.
“Anaknya bahagia malahan ingin kembali kesini, karena sakit jadinya terlambat, sekarang p juga sudah berada di sekolah,” beber Nikkon.
Ia juga menjelaskan bahwa melalui kejadian ini dirinya Sekolah Rakyat bisa intropeksi diri dan dikenal oleh orang banyak. Pihaknya berkomitmen untuk selalu melakukan yang terbaik di tengah keterbatasan.
“Dengan kejadian inu sekokah bisa intropeksi diri dan dikenal, meski dengan keterbatasan kami berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk anak-anak penerus bangsa,” pungkasnya.
(Utomo)












