SAMPIT – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Dapil 3 Wahito Fajriannoor mengusulkan agar pemerintah daerah segera mengoperasikan dermaga penghubung antara Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Pulau Hanaut sehingga bisa dilalui kendaraan roda empat.
Ia menyebut, dermaga yang telah rampung dibangun itu sangat dinantikan masyarakat karena akan menjadi akses penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperlancar mobilitas warga Pulau Hanaut yang selama ini masih terbatas.
“Masyarakat berharap dermaga ini segera dioperasikan agar kendaraan roda empat bisa menyeberang. Minimal pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan menyediakan ferry atau LCT supaya mobil bisa menyeberang,” kata Fajrin, Rabu 22 Oktober 2025.
Usulan itu ia sampaikan setelah melakukan reses di Kecamatan Pulau Hanaut beberapa waktu lalu. Dalam kunjungannya, banyak aspirasi masyarakat yang berharap dermaga segera difungsikan untuk penyeberangan kendaraan roda empat.
Menurutnya, selama ini masyarakat hanya mengandalkan perahu kecil untuk menyeberangkan kendaraan roda dua. Kondisi tersebut sangat berisiko, terutama ketika arus Sungai Mentaya kuat atau gelombang tinggi datang.
“Selama ini hanya menggunakan perahu kecil yang hanya bisa mengangkut roda dua. Risikonya tinggi, dan masyarakat khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Politisi Demokrat itu menjelaskan, dermaga penghubung sebenarnya sudah siap digunakan, termasuk akses jalan menuju dermaga baru di wilayah Pulau Hanaut. Namun, hingga kini belum juga dioperasikan.
“Kalau dermaga itu bisa dioperasikan untuk roda empat, pembangunan di Pulau Hanaut akan lebih mudah dan terbuka. Itu juga akan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi karena bisa memangkas biaya transportasi barang,” jelasnya.
Fajrin menambahkan, meski infrastruktur jalan di Pulau Hanaut belum memadai, namun beroperasinya dermaga roda empat akan menjadi titik awal kemajuan pembangunan di wilayah tersebut. Ia juga mengingatkan agar dermaga yang sudah selesai tidak terbengkalai dan rusak karena tidak difungsikan.
“Harapan utama masyarakat adalah pengoperasian dermaga itu, karena ibaratnya pintu untuk membuka akses kemajuan wilayah. Kalau akses sudah terbuka, pembangunan dan ekonomi pasti ikut bergerak,” tegasnya.
Selain dermaga, masyarakat Pulau Hanaut juga menghadapi persoalan infrastruktur lain seperti jembatan antar desa yang rusak dan membahayakan pengguna jalan.
“Banyak keluhan warga tentang jembatan penghubung yang kondisinya memprihatinkan. Kami sudah berulang kali menyuarakan agar pemerintah bertahap membangun box culvert sebagai solusi jangka panjang,” tuturnya.
Fajrin juga menyoroti kondisi fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas di Pulau Hanaut yang sering tergenang air dan sebagian bangunannya rusak. Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih kepada wilayah pesisir agar tidak tertinggal.
“Kita berharap pembangunan merata juga di wilayah Pulau Hanaut yang terpisah oleh luasnya Sungai Mentaya. Masyarakat di sini punya hak yang sama untuk merasakan pemerataan pembangunan,” pungkasnya. (nardi)












