Pastor Don Bosco Terima Ancaman Usai Tolak Road Race di Taman Kota Sampit

IST/BERITASAMPIT - Tangkapan layar komentar ancaman kepada Pastor Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit RP Yohanes Kopong Tuan.

SAMPIT – Pastor Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit, RP Yohanes Kopong Tuan, menerima ancaman melalui media sosial setelah dirinya menyampaikan penolakan terhadap rencana pelaksanaan road race di kawasan Taman Kota Sampit (Kotim).

Ancaman itu ditulis sebuah akun bernama @sancez yang mempersoalkan sikap pastor terkait keberatan mereka atas lokasi kegiatan, bahwa jika event batal, maka pastor dianggap bertanggung jawab atas kerugian pihak tertentu.

Komentar itu juga menyebutkan bahwa aktivitas ibadah tidak memiliki alasan kuat untuk menolak kegiatan tahunan tersebut serta mengancam akan menimbulkan kerusuhan apabila road race dibatalkan.

“Jika batal balab di kota sampit, anda bertanggung jawab atas pembatalan rodrace tersebut, kerugian saya 150jt,” tulis akun Akun media sosial bernama sancez.

“Nah kan itu tau taman kota sampit punya warga kota sampit, wajar dong ada balab tahun ke tahun, kalo ngomongin ibadah anda, ibadah anda di lakukan 4x dalam sebulan kitak tidak pernah menolak, kalo sampek batal lihat aja akibat nya,” lanjutnya.

“Siap rusuh kalo batal, udah puluhan juta keluarin modal,” ujarnya berkomentar di akun Yohanes Kopong.

Menanggapi ancaman tersebut, RP Yohanes Kopong Tuan menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.

Namun ia menilai ancaman bernada provokatif tersebut sudah melewati batas dan harus mendapat perhatian serius dari aparat kepolisian. Ia menekankan bahwa pihak gereja tidak menolak otomotifnya, tetapi keberatan semata-mata pada lokasi penyelenggaraan.

“Kami bukan menolak road race, justru mendukung sebagai ajang prestasi untuk membawa nama Kotim di Porprov 2026. Namun tempatnya yang kami nilai tidak tepat. Sikap ketidaksetujuan kami juga bentuk penghormatan terhadap surat bupati yang sudah jelas melarang kegiatan besar di kawasan Taman Kota,” ujarnya.

Pastor Yohanes juga menjelaskan bahwa pengalaman pada kegiatan serupa sebelumnya menunjukkan bahwa jalur alternatif yang dijanjikan panitia tidak berjalan efektif. Fakta di lapangan sempat terjadi kerumunan penonton, kepadatan arus kendaraan, hingga situasi yang hampir memicu keributan di sekitar fasilitas serta sekolah di Jalan Yos Sudarso.

Menurutnya, keamanan penyelenggaraan event harus menjadi perhatian utama. Ia tidak ingin muncul kesan seolah Gereja Katolik berhadap-hadapan dengan pihak penyelenggara atau komunitas otomotif.

Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah daerah memfasilitasi dialog agar keputusan yang diambil nantinya dapat diterima semua pihak.

“Kami serahkan sepenuhnya kepada Pemkab. Kami siap duduk bersama. Apa pun keputusan pemerintah, akan kami hormati,” tegasnya. (Nardi)

baca juga ...  Dua Desa di Utara Kotim Terendam Banjir, Warga Minta Solusi Pemerintah

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!