SAMPIT – Polemik penyelenggaraan Road Race di Taman Kota Sampit pada 13–14 Desember 2025 berbuntut panjang. Dewan Paroki Santo Yohanes Don Bosco akhirnya angkat bicara menanggapi tuduhan yang dilayangkan Febri van Louis yang menyebut keputusan itu diambil karena adanya ancaman dan suap.
Pastor Yohanes Kopong Tuan dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa izin kegiatan diberikan murni berdasarkan hasil rapat bersama antara Pemkab Kotim, Dewan Paroki, Manajemen Klinik Obor Terapung, IMI, dan panitia penyelenggara.
“Bukan karena soal ancaman yang ditunjukkan kepada saya, bukan juga karena uang sebagaimana yang dituduhkan oleh Febri van Louis dalam komentarnya atas postingan Sampitvgram hingga viral di publik,” ujar Yohanes Kopong pada Kamis 11 Desember 2025.
Dirinya mengatakan komentar dari postingan tersebut sangat merugikan pihak paroki. Sehingga ia harus ambil tindakan klarifikasi atas tuduhan tersebut.
Ia menegaskan pihaknya sama sekali tidak menerima suap dari pihak manapun, semua keputusan itu adalah murni dari kesepakan bersama.
Pastor Yohanes menambahkan, keputusan rapat bukan menolak Road Race, melainkan lokasi pelaksanaan. IMI, kata dia, juga memahami sepenuhnya aturan yang dikeluarkan Bupati Kotim pada 31 Mei 2024. Setelah panitia memenuhi sejumlah persyaratan, jalan tengah pun diambil demi kebaikan bersama.
“Kami memang menolak namun memikirkan hal yang lebih besar dengan menyetujui persyaratan yang kami ajukan dan melihat panitia sudah mempersiapkan semuanya. Maka jalan tengah diambil dengan tetap memperhatikan persyaratan yang kami ajukan dan masuk dalam point berita acara,” jelasnya
Ia menegaskan bahwa pihak paroki tidak ingin masalah ini digiring menjadi isu agama.
“Atas alasan demikian maka kami menyerahkan semua keputusan terbaik kepada Pemkab Kotim dengan tetap memperhatikan persyaratan yang kami ajukan,” ungkapnya
Yohanes menyampaikan kesepakatan bersama sudah diambil dan yang wajib dilakukan adalah menjaga persatuan, persaudaraan dan kedamaian menyongsong pelaksanaan Road Race.
“Jika ada yang berkeberatan, kami harapkan untuk tidak membawa nama Gereja Katolik San Joan Don Bosco Sampit dan Klinik Obor Terapung”, pungkasnya.
(Utomo)












