SAMPIT – Pemetaan wilayah rawan banjir dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi salah satu fokus pembahasan dalam rapat evaluasi akhir tahun Forkopimda Kotim, Selasa 30 Desember 2025.
Kodim 1015 Sampit memaparkan sejumlah kecamatan dan desa yang selama 2025 masuk kategori rawan bencana banjir dengan mengutip data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim.
Dandim 1015 Sampit melalui Perwira Seksi Operasi (Pasi Ops) Kapten Infanteri Syahidin menyebutkan sejumlah wilayah rawan banjir yaitu di Kecamatan Mentaya Hulu, wilayah yang kerap terdampak banjir meliputi Desa Kawan Batu, Pahirangan, Tangar, Baampah, Penda Durian, dan Tanjung Bantur.
“Sementara di Kecamatan Telawang, daerah rawan banjir teridentifikasi di Desa Tanah Putih dan Sebabi,” ujarnya.
Adapun di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, desa yang masuk dalam peta rawan banjir antara lain Desa Natai Baru, Pondok Damar, Sumber Makmur, Bagendang Hulu, serta Bagendang Tengah.
Wilayah rawan lainnya juga tercatat di Kecamatan Antang Kalang tepatnya Desa Tumbang Kalang. Selain itu, Kecamatan Parenggean mencakup Kelurahan Parenggean serta Desa Barunang Miri, Kabuau, Tehang, dan Menjalin.
Kecamatan Cempaga Hulu meliputi Desa Bukit Raya dan Pantai Harapan, sedangkan Kecamatan Kotabesi mencakup Desa Hanjalipan, Simpur, Rasau Tumbuh, Palangan, Pamalian, dan Soren.
Kodim 1015 Sampit juga melaporkan berbagai langkah penanganan banjir yang telah dilakukan sepanjang 2025, mulai dari pendirian posko terpadu, kesiapsiagaan perlengkapan darurat, hingga percepatan penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
Upaya tersebut diperkuat dengan pelibatan seluruh unsur pendukung, kesiapan sarana SAR seperti perahu karet, genset, lampu darurat, dan senter, serta peningkatan kapasitas personel yang bertugas di lapangan. Pengawalan distribusi bantuan dan peran Babinsa juga menjadi perhatian penting.
Selain banjir, Kodim 1015 Sampit mencatat tren penurunan titik panas karhutla di Kotim sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan seiring potensi munculnya hotspot di wilayah rawan.
“Secara kuantitas dan kualitas, hotspot tahun ini memang menurun dibandingkan 2024. Namun kami tetap siaga, apalagi sudah ada perintah langsung Presiden kepada Panglima TNI terkait penanganan hotspot dan karhutla,” ujar Kapten Syahidin.
Berdasarkan pemetaan, daerah rawan karhutla tersebar di Kecamatan Antang Kalang, Bukit Santuai, Tualan Hulu, Parenggean, Mentaya Hulu, Cempaga Hulu, Telawang, Cempaga, Ketapang, Kotabesi, Mentaya Hilir Utara, Baamang, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, hingga Pulau Hanaut.
Untuk mengantisipasi karhutla, Kodim 1015 Sampit mengintensifkan pemantauan melalui pos lapangan sesuai tingkat kerawanan wilayah. Upaya pencegahan juga melibatkan Dewan Adat Dayak dan organisasi kemasyarakatan adat melalui pendekatan kearifan lokal.
Sinergi lintas sektor bersama pemerintah daerah, BPBD, Polri, dan unsur terkait terus diperkuat, termasuk melalui sosialisasi, pembinaan masyarakat, serta patroli rutin di kawasan rawan.
Pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan serta langkah antisipatif guna meminimalkan dampak banjir maupun karhutla, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pihak di Kotim. (nardi)












