Berita Sampit dan Jurnalisme sebagai Arena Pertarungan Hegemoni

JIMMY/BERITASAMPIT - Aktivitas lalu lintas di salah satu bundaran di jantung Kota Sampit.

(Refleksi 11 Tahun Kerja Redaksi)

KEHADIRAN Berita Sampit selama sebelas tahun di Kabupaten tidak dapat dibaca semata sebagai perjalanan institusional sebuah media lokal. Ia lebih tepat dipahami sebagai praktik kultural- yang beroperasi di dalam medan relasi kuasa yang timpang, di mana produksi informasi, wacana, dan makna menjadi instrumen penting dalam mempertahankan maupun menantang dominasi.

Dalam konteks , kekuasaan bekerja melalui konfigurasi yang saling menopang antara elit , kepentingan modal, birokrasi negara, dan aparatus koersif. Konfigurasi ini tidak hanya mengatur distribusi sumber daya material—tanah, hutan, dan ruang hidup—tetapi juga memproduksi legitimasi ideologis atas proses tersebut. Pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi diposisikan sebagai common sense yang nyaris tak terbantahkan, sementara konflik sosial dan ketimpangan struktural direduksi menjadi anomali atau gangguan temporer.

Di sinilah peran media menjadi krusial. Sebagian besar media lokal beroperasi sebagai apa yang dalam kerangka Althusserian dapat disebut sebagai aparatus ideologis, yakni institusi yang berfungsi mereproduksi relasi kuasa melalui bahasa yang tampak netral, teknokratis, dan non-politis. Kritik dibatasi, konflik disederhanakan, dan ketimpangan dinaturalisasi.

Berita Sampit secara sadar mengambil jarak dari fungsi tersebut.

Sejak awal, redaksi memahami bahwa jurnalisme tidak pernah berada di luar . Klaim netralitas dalam masyarakat yang secara struktural timpang justru berfungsi sebagai mekanisme depolitisasi. Netralitas semacam ini bukan ketiadaan keberpihakan, melainkan keberpihakan implisit pada tatanan yang sedang berkuasa. Karena itu, Berita Sampit menolak ilusi objektivitas yang memisahkan fakta dari relasi kuasa yang memproduksinya.

Dalam kerangka Gramscian, kerja jurnalistik Berita Sampit dapat dibaca sebagai bagian dari war of position—upaya jangka panjang untuk menginterupsi hegemoni dominan melalui produksi wacana alternatif. Hegemoni tidak dipertahankan terutama melalui represi langsung, melainkan melalui persetujuan yang dibangun di tingkat kesadaran. Tugas media kritis, dengan demikian, bukan sekadar mengungkap , tetapi meretas kesadaran palsu yang menutupi kontradiksi sosial.

Selama sebelas tahun, Berita Sampit berupaya menempatkan konflik sebagai fakta sosial yang sah, bukan penyimpangan. Konflik agraria, perampasan ruang hidup, eksploitasi tenaga kerja, dan marginalisasi masyarakat adat tidak diperlakukan sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai ekspresi dari logika akumulasi yang melekat dalam proyek pembangunan kapitalistik di daerah. Dengan cara ini, jurnalisme tidak berhenti pada deskripsi, tetapi bergerak ke arah kritik struktural.

Keberpihakan Berita Sampit bukanlah sentimental, melainkan analitis. Redaksi mengambil posisi pada kelompok-kelompok yang secara sistematis dirugikan oleh kebijakan publik dan relasi produksi yang timpang. Ini bukan pilihan moral individual, melainkan konsekuensi logis dari pembacaan material atas realitas sosial . Dalam situasi ketimpangan, ketidakberpihakan justru memperpanjang dominasi.

Tekanan terhadap media kritis baik dalam bentuk intimidasi, delegitimasi, maupun pembatasan akses—harus dipahami sebagai bagian dari mekanisme pertahanan hegemoni. Kekuasaan selalu berupaya mengendalikan produksi makna, karena di situlah fondasi legitimasi dibangun. Dalam konteks ini, keberlangsungan Berita Sampit selama sebelas tahun menandai adanya celah dalam dominasi tersebut, betapapun sempit dan rapuhnya.

Refleksi sebelas tahun ini bukanlah penutup, melainkan penegasan arah. Berita Sampit melihat jurnalisme bukan sebagai industri semata, tetapi sebagai praktik sosial yang memiliki konsekuensi . Ia adalah arena pertarungan ideologis, tempat berbagai kepentingan berupaya mendefinisikan realitas.

Selama struktur ketimpangan masih direproduksi, selama pembangunan dijalankan sebagai proyek ekstraksi yang mengecualikan banyak pihak, dan selama kekuasaan terus berupaya memonopoli kebenaran, maka jurnalisme kritis tetap relevan—bukan sebagai pengamat netral, tetapi sebagai bagian dari upaya kolektif untuk membuka kemungkinan emansipasi.

Dalam pengertian itu, Berita Sampit tidak sekadar melaporkan dunia apa adanya, tetapi berupaya mempertanyakan mengapa dunia disusun sedemikian rupa—dan untuk siapa ia bekerja.


Jimmy, Wartawan Muda Berita Sampit

baca juga ...  Hangatnya Kebersamaan! PWI Kotim Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!