PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat nilai ekspor Kalimantan Tengah sepanjang Januari-Desember 2025 sebesar USD 3,54 miliar, atau mengalami penurunan 12,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, neraca perdagangan Kalimantan Tengah masih mencatat kondisi surplus.
Data tersebut disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng M. Taufiqurrahman dalam paparan Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan secara daring dari Ruang Vicon BPS Kalteng dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi BPS, Senin, 2 Februari 2026.
“Nilai ekspor Kalimantan Tengah pada periode Januari sampai Desember 2025 tercatat sebesar 3,54 miliar dolar AS atau turun 12,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Taufiqurrahman.
Ia menjelaskan, struktur ekspor Kalimantan Tengah masih didominasi oleh batu bara dan minyak kelapa sawit, dengan negara tujuan utama Jepang, India, dan Tiongkok.
Sementara itu, dari sisi impor, nilai impor Kalimantan Tengah sepanjang Januari-Desember 2025 tercatat sebesar USD 37,70 juta, atau turun 35,42 persen secara kumulatif tahunan.
“Dengan nilai impor yang lebih rendah dibandingkan ekspor, neraca perdagangan Kalimantan Tengah pada periode tersebut tetap mencatat surplus,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, BPS juga memaparkan kondisi ekonomi daerah melalui perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK). Pada Januari 2026, Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara month-to-month.
“Inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,30 persen,” kata Taufiqurrahman.
Ia menambahkan, komoditas utama penyumbang inflasi di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, ikan gabus, ikan nila, dan beras. Sementara itu, penurunan harga bawang merah dan cabai rawit turut menahan laju inflasi.
Secara year-on-year, inflasi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 4,09 persen, dengan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebagai penyumbang terbesar.
“Kenaikan tarif listrik serta harga emas perhiasan menjadi faktor dominan inflasi tahunan,” pungkas Taufiqurrahman.
(Sya'ban)












