SAMPIT – Situasi keamanan di Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menjadi sorotan, terlebih memasuki bulan suci Ramadan. Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM) menyatakan keresahan warga tidak bisa lagi dianggap sebagai isu biasa dan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di daerah.
Ketua KPPM Muhammad Ridho merilis catatan aspirasi masyarakat yang dihimpun sepanjang Januari hingga Februari 2026.
“Dari laporan yang diterima, terdapat sedikitnya 12 aduan dugaan pencurian, tujuh laporan perkelahian atau keributan remaja, serta 15 keluhan terkait minimnya patroli malam di sejumlah kawasan,” kata Ridho, Selasa 24 Februari 2026.
Sejumlah titik yang disebut rawan antara lain permukiman padat penduduk serta ruas jalan yang minim penerangan. Data tersebut, menurut KPPM, bersumber dari pemberitaan media daring dan aduan langsung masyarakat, yang selanjutnya tetap memerlukan verifikasi oleh aparat berwenang.
Ketua KPPM menegaskan, rasa aman masyarakat merupakan indikator utama keberhasilan sistem pengamanan. Ia menyebut kondisi ketika warga mulai merasa waswas keluar malam atau tidak lagi tenang memarkir kendaraan di halaman rumah sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.
“Ketika warga merasa tidak aman di lingkungan sendiri, itu artinya ada yang harus segera dibenahi. Jangan menunggu situasi semakin memburuk baru bergerak,” tegasnya.
KPPM pun menyampaikan lima tuntutan utama. Pertama, dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di wilayah rawan. Kedua, dibukanya data kriminalitas secara transparan dan berkala kepada publik.
Ketiga, peningkatan patroli rutin disertai respons cepat atas laporan warga. Keempat, optimalisasi penerangan jalan umum di titik-titik gelap. Kelima, digelarnya forum dialog terbuka antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Menurut KPPM, menjaga keamanan memang menjadi tanggung jawab bersama. Namun demikian, aparat penegak hukum tetap memegang mandat utama dalam menjamin rasa aman warga.
Sebagai langkah lanjutan, KPPM berencana mengajukan audiensi resmi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan dalam waktu dekat. Bahkan, apabila dalam 14 hari tidak terlihat langkah konkret, mereka menyatakan siap menggelar aksi damai serta deklarasi masyarakat peduli keamanan.
Meski demikian, KPPM menegaskan seluruh langkah yang akan ditempuh dilakukan secara konstitusional dan damai, demi menjaga kondusivitas daerah.
KPPM juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, aktif melapor apabila menemukan tindak mencurigakan, menghidupkan kembali siskamling, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menjaga persatuan agar tidak mudah terprovokasi.
Diketahui bahwa kasus kriminal belakangan meningkat saat bulan puasa, terbaru dan membuat gempar pada Jumat, 20 Februari 2026, warga Sampit digegerkan oleh dua peristiwa perampokan yang terjadi pada hari yang sama.
Peristiwa pertama berlangsung dini hari di Perumahan Pandawa, Jalan Jenderal Sudirman, ketika seorang ibu rumah tangga bernama Marni disatroni pelaku yang masuk ke rumahnya saat sahur dan mengalami luka serius akibat penganiayaan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan medis.
Di siang hari yang sama, sebuah gerai BRILink di Jalan HM Arsyad juga menjadi sasaran perampokan dengan senjata tajam, pelaku yang diduga seorang diri berhasil membawa kabur uang tunai sekitar Rp9 juta dari agen tersebut, sementara polisi masih menyelidiki serta memburu pelaku dari kedua kasus ini.
Selain perampokan, fenomena balap liar juga menjadi isu yang menguat di Kotim, terutama sejak memasuki bulan Ramadan. Aksi kebut-kebutan kendaraan bermotor yang sering berlangsung di kawasan seperti Taman Kota, depan Stadion kawasan Nur Mentaya, HM Arsyad, Jalan Samekto dan ruas lainnya.
Aparat kepolisian melalui Satlantas Polres Kotim telah melakukan patroli serta pembubaran ketika menerima laporan.
Bahkan aksi balap motor dan atraksi standing hingga memicu keributan layaknya tawuran di Jalan Samekto sempat viral di media sosial. Hal ini meresahkan pengguna jalan maupun masyarakat sekitar. (nardi)












