JAKARTA— Di tengah kecamuk konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki hari keenam, sebuah “rudal” diplomatik melesat dari jantung ekonomi Uni Emirat Arab (UEA).
Miliarder terkemuka Dubai, Khalaf Ahmad Al Habtoor, secara terbuka melayangkan kecaman pedas terhadap Presiden AS Donald Trump, mempertanyakan legitimasi Washington dalam menyeret kawasan Teluk ke ambang kehancuran.
Pernyataan pendiri Al Habtoor Group ini bukan sekadar kegelisahan seorang pebisnis, melainkan sinyal keresahan mendalam dari elit penguasa Arab.
Melalui pernyataan tertulis yang mengejutkan publik internasional hari ini, Al Habtoor secara langsung menghujam kebijakan luar negeri Trump yang dinilai sepihak dan membahayakan eksistensi negara-negara regional.
Gugatan Terhadap Legitimasi Perang
Dalam pesan yang ditujukan langsung kepada Trump, Al Habtoor melontarkan pertanyaan yang sangat mendasar namun provokatif. “Siapa yang memberi Anda wewenang untuk menyeret kawasan kami ke dalam perang dengan Iran? Dan atas dasar apa Anda membuat keputusan berbahaya ini?”
Ia menegaskan bahwa kebijakan militer AS saat ini telah menempatkan negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta negara-negara Arab lainnya di “jantung bahaya yang tidak mereka pilih.”
Al Habtoor menyoroti inkonsistensi Trump yang selama kampanye berjanji menghindari perang luar negeri, namun justru memerintahkan ratusan serangan udara di tahun pertamanya menjabat.
Ironi Agenda Perdamaian dan Realitas Militer
Salah satu poin paling krusial dalam kritik ini adalah nasib inisiatif “Board of Peace” yang baru saja diumumkan Trump pada Januari lalu untuk rekonstruksi Gaza.
Al Habtoor menyindir bahwa “tinta belum kering” pada inisiatif perdamaian tersebut, namun kawasan justru sudah berubah menjadi medan perang.
Kekhawatiran Al Habtoor didasari oleh realitas lapangan yang kian genting di mana Iran mulai meluncurkan rudal dan drone yang menyasar infrastruktur militer serta sipil di dekat pusat logistik global di Dubai dan Abu Dhabi.
Sinyal Pergeseran Geopolitik
Bagi para analis, keberanian tokoh sekaliber Al Habtoor untuk berbicara lantang menunjukkan bahwa tekanan terhadap kedaulatan negara-negara Arab telah mencapai titik didih.
Ada indikasi kuat bahwa elit bisnis dan politik di kawasan merasa “dikhianati” oleh keputusan Washington yang dianggap lebih mementingkan tekanan dari pihak luar, termasuk Israel, tanpa konsultasi regional yang memadai.
(adista)












