SAMPIT – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 76 kasus baru, dengan mayoritas penderitanya berasal dari kelompok usia produktif.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kotim, Asyikin Arpan, mengungkapkan bahwa dari total tersebut, 48 kasus dialami laki-laki dan 28 kasus perempuan. Ia menegaskan bahwa tingginya angka tersebut menjadi alasan penting bagi pihaknya untuk terus menggencarkan upaya pencegahan, khususnya melalui edukasi.
“ASN zero kasus, tidak ada yang terdata terkena HIV/AIDS. Namun mereka ini usia produktif yang masih bersih sehingga kita edukasi dan sosialisasi untuk pencegahan,” ujarnya, Rabu 1 April 2026.
Menurutnya, langkah antisipasi yang dilakukan saat ini adalah memberikan pemahaman kepada kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), mengingat mereka berada pada usia produktif yang rentan. Edukasi ini diharapkan dapat membekali mereka dengan pengetahuan sejak dini.
“Karena penyakit ini sangat berat. Kalau sudah terinfeksi, sulit untuk disembuhkan. Jadi tidak ada salahnya mereka diberi wawasan untuk menambah pola pikir,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa generasi saat ini memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Dengan perkembangan zaman, risiko penularan dinilai semakin tinggi jika tidak dibarengi dengan kesadaran menjalani pola hidup sehat.
“Dulu dengan sekarang berbeda. Sekarang lebih rentan. Karena itu kita dorong untuk menjalani hidup sehat,” ucapnya.
Selain itu, Asyikin menyampaikan bahwa penderita HIV/AIDS harus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Mereka diwajibkan mengonsumsi obat seumur hidup guna menjaga daya tahan tubuh.
“Mereka yang terpapar kita kawal terus, kita beri obat. Itu harus diminum seumur hidup dan tidak boleh berhenti, karena untuk meningkatkan imun tubuh,” jelasnya.
Dari sisi penularan, ia mengingatkan bahwa salah satu faktor utama adalah hubungan seksual di luar pasangan resmi. Ia menilai banyak orang tidak menyadari bahwa seseorang yang terinfeksi HIV bisa tampak sehat secara fisik.
“Kadang laki-laki tidak tahu dirinya terinfeksi, lalu pulang ke rumah menularkan ke pasangan. Bahkan jika istrinya hamil, anaknya bisa ikut terpapar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kasus hubungan sesama jenis juga menjadi perhatian pihaknya. Untuk kelompok laki-laki sesama jenis, saat ini masih dalam pemantauan, sementara untuk perempuan belum ditemukan kasus.
“Kami tetap pantau untuk yang sesama jenis laki-laki. Kalau perempuan belum ada temuan,” katanya.
Melalui berbagai upaya tersebut, KPA Kotim mengimbau masyarakat untuk menjauhi perilaku berisiko dan menjalani kehidupan sesuai norma sosial dan agama sebagai langkah pencegahan.
“Kami imbau jauhi hubungan di luar nikah dan jalani hidup sehat. Kalau perilaku baik, menjunjung norma agama dan sosial maka otomatis bisa terhindar dari penyakit ini,” tutupnya. (Nardi)












