SAMPIT – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis dexlite kini menjadi ancaman serius bagi para petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah momentum krusial masa panen, para petani justru dipusingkan oleh sulitnya mendapatkan BBM dengan harga terjangkau.
Saat ini, padi di sejumlah lahan mulai menguning dan siap dipanen. Namun, keterbatasan pasokan BBM membuat operasional mesin perontok hingga alat pengering terganggu. Kondisi ini berisiko menimbulkan kerugian besar, bahkan menyebabkan hasil panen terbuang sia-sia.
“Kalau bbm kosong, panen terhambat. Gabah bisa rontok di sawah, karena operasional susah,” kata salah seorang petani, Arfain.
Ia menjelaskan bahwa, setelah panen rampung, para petani harus segera beralih ke penggarapan musim tanam tahap dua. Lahan yang baru selesai dipanen perlu diolah kembali seperti membajak, menggemburkan tanah, hingga membuat saluran irigasi yang semuanya memerlukan bahan bakar untuk alat lertanian.
“Dengan harga BBM yang melambung tinggi serta stok yang sulit didapat, banyak petani mulai gigit jari, karena harga padi tak ikut naik,” ujarnya..
Kelangkaan ini diperparah dengan tidak adanya pengecer resmi di sekitar desa. Petani terpaksa membeli dari bandar dengan harga selangit atau mengantre dengan jarak puluhan kilometer ke kota.
“Dexlite langka apalagi solar subsidi,” keluhnya.
Dirinya berharap agar pemerintah daerah segera turun tangan menyediakan pasokan BBM bersubsidi bagi petani, mengingat sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi warga Lampuyang. Jika tidak, ancaman gagal panen di tahap pertama sekaligus gagal tanam di tahap kedua akan menjadi bencana pangan yang nyata.
“Mudah-mudahan segera ada tindakan dari pemerintah,” pungkasnya.
(Utomo)












