SAMPIT – Persoalan banjir yang terus berulang di Kota Sampit mendapat sorotan dari Ketua Fraksi PAN DPRD Kotim Dadang H Syamsu yang menegaskan bahwa banjir bukan lagi kejadian baru, melainkan masalah lama yang hingga kini belum tertangani secara maksimal.
“Yang pasti banjir ketika cuaca seperti ini bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang aneh. Sejak dulu ceritanya seperti ini terus,” kata Dadang, Senin 4 Mei 2026.
Ia menyebut, penataan drainase dalam kota sebenarnya sudah masuk dalam program dan visi kepala daerah terpilih. Namun hingga kini, kondisi di lapangan masih menunjukkan persoalan yang sama setiap tahun.
“Karena itu kita berharap dan tidak pernah bosan menyuarakan. Setiap tahun kita sampaikan. Melalui Fraksi PAN, kita berharap di tahun 2027 ada perencanaan yang komprehensif dan menyeluruh, supaya situasi seperti ini tidak terus berulang,” tegasnya.
Menurutnya, dampak banjir tidak hanya mengganggu aktivitas di jalan, tetapi juga berdampak langsung ke kehidupan masyarakat. Bahkan, kegiatan warga seperti acara hajatan ikut terganggu akibat genangan air, aktivitas warga terhambat.
Terkait sektor perumahan, Dadang menjelaskan bahwa DPRD sebelumnya telah membahas peraturan daerah yang mewajibkan pengembang menyediakan fasilitas umum, termasuk sistem sanitasi drainase yang nantinya diserahkan ke pemerintah daerah.
“Perda itu bagian kecil saja, salah satu upaya untuk menjawab persoalan di sektor perumahan. Tapi di luar itu, untuk kawasan pemukiman non-perumahan, perlu ada intervensi pemerintah melalui APBD,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penyusunan grand design penataan drainase kota yang tidak hanya berfokus pada jalan protokol seperti Jalan Ahmad Yani, tetapi juga menyasar kawasan permukiman, khususnya di wilayah Baamang dan Mentawa Baru Ketapang.
“Wajah Kota Sampit ini Baamang dan Ketapang. Ketika orang masuk ke wilayah itu dan melihat kondisi seperti ini, tentu menjadi catatan tersendiri,” ungkap dewan Dapil 2 ini.
Saat ditanya mengenai penilaian terhadap penanganan drainase selama ini, Dadang secara tegas menyebut belum maksimal. Ia menilai, fakta banjir yang terus terjadi menjadi bukti nyata.
“Belum maksimal, sudah jelas. Fakta banjir ini kan menjawab semuanya,” katanya.
Meski demikian, ia juga mengajak masyarakat untuk turut menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, selain faktor drainase, kondisi lingkungan seperti sampah juga berkontribusi terhadap terjadinya banjir.
“Kita juga mengajak warga bersama-sama menjaga lingkungan. Tidak semua banjir akibat sistem drainase saja, tapi juga faktor kebersihan lingkungan,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, banjir melanda Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Baamang akibat hujan deras yang terjadi pada Minggu pagi 3 Mei 2026.
Sejumlah ruas jalan terdampak genangan air, di antaranya Jalan Sampurna, Jalan Jeruk 1, Jalan Pelita, Jalan Suprapto Selatan, Jalan Anggur 3, Jalan Pinang 2, Jalan Caman Barat, Jalan Tatar, Jalan Rangkas 4, serta di wilayah Baamang seperti Jalan Kenan Sandan, Jalan Hasan Mansur, Jalan Walter Condrad, Jalan Gunung Kelud, dan Jalan Cristopel Mihing.
Bahkan, genangan air tidak hanya merendam badan jalan, tetapi juga masuk ke rumah warga di beberapa titik, sehingga aktivitas masyarakat terganggu dan warga harus mengamankan barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi. (Nardi)












