SAMPIT – Guna mengantisipasi ancaman karhutla menghadapi musim kemarau 2026, BGA Group memperkuat benteng pencegahan di wilayah Pundu, Kotawaringin, dan Mentaya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi ketat bersama BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Forkopimcam, serta tim pemadam kebakaran perusahaan.
Dengan cakupan operasional seluas 184.000 hektar yang terdiri dari 66 persen kebun inti dan 34 persen kebun plasma, dan mempekerjakan lebih dari 30.000 personel serta ribuan masyarakat sekitar,
kesiapsiagaan menghadapi karhutla menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan
sekaligus bersinergi dengan masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, kegiatan siaga karhutla yang digelar perusahaan bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan wujud penguatan koordinasi lapangan, kesiapan personel, pengecekan sarana pemadaman, hingga peningkatan kapasitas tim tanggap darurat bersama para pemangku kepentingan.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen BGA Group dalam menjalankan operasional perkebunan kelapa sawit skala besar secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Regional Head BGA, Lavin Dwi Saputra menjelaskan, bahwa pada tahun 2025, BGA mencatat produksi sebesar 1,25 juta ton crude palm oil (CPO) dari pengolahan 5,65 juta ton TBS, yang berasal dari 39 persen kebun inti, 21 persen kebun plasma dan 39 persen petani swadaya, dengan nilai penjualan mencapai Rp19,95 triliun yang seluruhnya diserap pasar dalam negeri.
Untuk mendukung keberlanjutan operasional tersebut, BGA tidak hanya memperkuat kesiapan internal perusahaan, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pencegahan karhutla melalui program Desa Bebas Api dan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA).

“Dimana tujuannya untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, sekaligus memperkuat kemampuan warga dalam deteksi dini dan penanganan awal kebakaran,” ujarnya, Senin 25 Mei 2026.
Ia menegaskan, melalui pendekatan tersebut, masyarakat harus bisa berperan aktif sebagai garda terdepan dalam mencegah karhutla. Keterlibatan MPA dinilai efektif karena melibatkan warga lokal yang memahami kondisi wilayah dan dapat merespons cepat saat muncul potensi titik api.
Di Kalteng, tahun ini BGA bekerja sama dengan 12 desa di sekitar wilayah
operasional untuk memperkuat pencegahan karhutla berbasis masyarakat. Kolaborasi ini terus diperluas sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun kawasan perkebunan dan desa yang lebih tangguh terhadap ancaman kebakaran.
“BGA meyakini bahwa pencegahan karhutla memerlukan sinergi berkelanjutan antara
perusahaan, pemerintah, aparat, dan masyarakat agar lingkungan tetap terjaga serta aktivitas masyarakat dapat berlangsung kondusif selama musim kemarau,” tandasnya.(im/bs)












