Saat Rupiah Melemah, Pelaku Ekspor di Kalteng Justru Diuntungkan

IST/BERITASAMPIT - ilustrasi.

– Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai membawa peluang bagi pelaku usaha berorientasi ekspor di (Kalteng), terutama yang bergerak di sektor komoditas unggulan.

Pengamat ekonomi Kalteng, Suherman Juhari, mengatakan kondisi tersebut membuat penerimaan eksportir dalam bentuk dolar menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.

Menurutnya, Kalteng selama ini dikenal sebagai daerah penghasil komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet yang sebagian besar dipasarkan ke luar negeri.

“Transaksi penjualan komoditas ekspor umumnya menggunakan mata uang dolar AS. Ketika nilai tukar rupiah melemah, penerimaan eksportir dalam rupiah menjadi lebih tinggi,” ujarnya, Jumat, 5 Juni 2026.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan maupun pelaku usaha yang memiliki orientasi pasar ekspor.

“Pelaku usaha yang bergerak di sektor ekspor tentu bisa mendapatkan keuntungan karena penerimaan mereka dalam dolar. Ketika dikonversi ke rupiah nilainya menjadi lebih besar,” katanya.

Meski demikian, Suherman mengingatkan bahwa dampak positif tersebut tidak otomatis dirasakan oleh masyarakat secara luas. Sebaliknya, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi sektor usaha yang masih bergantung pada barang dan bahan baku impor.

Sejumlah kebutuhan seperti pupuk, alat berat, mesin, suku cadang, hingga bahan baku industri diperkirakan mengalami kenaikan harga seiring melemahnya nilai tukar rupiah.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu panjang, biaya operasional usaha dapat meningkat dan mendorong kenaikan harga barang maupun jasa di pasaran.

“Dampaknya bisa berlanjut pada kenaikan harga barang dan jasa karena pelaku usaha harus menyesuaikan biaya produksi yang meningkat,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat juga berpotensi menghadapi tekanan inflasi yang dapat mengurangi daya beli. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari akan semakin terasa apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

“Pada akhirnya daya beli masyarakat dapat melemah karena pengeluaran menjadi lebih besar, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan yang signifikan,” ujarnya.

Karena itu, Suherman menilai pemerintah daerah perlu terus mendorong hilirisasi industri, diversifikasi ekonomi, serta penguatan UMKM agar perekonomian daerah tidak terlalu bergantung pada komoditas primer dan lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.

“Walaupun ada sektor yang diuntungkan, pelemahan rupiah tetap harus diwaspadai karena dampaknya bisa meluas, mulai dari meningkatnya biaya produksi, tekanan inflasi, hingga penurunan daya beli masyarakat,” tegasnya.

(Sya'ban)

baca juga ...  Gubernur Kalteng Tinjau RSUD Hanau di Kabupaten Seruyan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!