BPBD Kobar Catat 85 Karhutla selama Juni hingga Juli

IST/BERITASAMPIT - Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel.

PANGKALAN BUN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barat (Kobar), mencatat 85 kejadian Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dimana titik hotspot paling banyak terjadi di Kecamatan Arut Selatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, menyampaikan hampir dua pekan terakhir, BPBD Kobar menerima laporan perihal kejadian Karhutla khususnya di wilayah Kecamatan Arut Selatan dan Kumai.

“Kejadiannya hampir tiap hari bahkan dalam satu hari bisa dua bahkan tiga penanganan. Dari enam Kecamatan Se Kobar, saat ini karhutla terjadi di wilayah Kecamatan Arut Selatan dan Kumai, paling banyak di Arut Selatan yakni mencapai 30 titik api dan lahan yang terbakar mencapai 21,61 hektare,” katanya.

Untuk wilayah Kecamatan Kumai, Lanjut Samuel, Karhutla terjadi sebanyak 25 titik api dengan luas lahan yang terbakar seluas 62,65 hektare, sehingga total lahan yang terbakar di dua Kecamatan tersebut mencapai 113,51 hektare.

“Hingga saat ini untuk status Karhutla di Kobar masih tahap siaga, kami melihat perkembangan di lapangan untuk meningkatkan status. Pada prinsipnya Tim Reaksi Cepat (TRC) selalu siap dalam waktu 24 jam, begitu mendapatkan laporan maka langsung bergerak. Kami pun dalam penanganan selalu mendapat dukungan dari pihak terkait, sinergi yang telah terjalin dalam upaya menekan api agar tidak cepat menjalar lebih luas,” ujar Samuel, Senin 20 Juli 2026.

Dijelaskan Samuel, bahwa pada saat kejadian tim penanganan kerap menemukan kendala seperti jauhnya sumber air dan titik api yang sulit terjangkau dengan alat pemadam kebakaran, sehingga tim harus berjalan mendekati titik api.

” Sesulit apapun lokasinya, tim kami tetap berupaya keras agar mampu memadamkan api, bahkan setelah padam dilakukan pendinginan pasalnya api sering muncul kembali dititik yang sama,” imbuhnya.

baca juga ...  Gubernur Kalteng Kunjungi Taman Nasional Tanjung Putting, Tekankan Kenyamanan Wisatawan

Selain penanganan pada saat kejadian, menurut Samuel yang paling penting adalah upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran pada saat akan membuka lahan.

“Tetapi sampai sejauh ini penyebab Karhutla belum diketahui karena apa, agar karhutla tidak meluas, kami berupaya agar Karhutla ini tidak menimbulkan kabut asap jika sampai bencana kabut asap maka akan merugikan semua sektor bukan hanya mengganggu saja,” pungkasnya. (man)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!