PALANGKA RAYA – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) sepanjang 1 Januari hingga 19 Juli 2026, yakni mencapai 401 titik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lain di Kalteng.
“Hingga pertengahan Juli ini, konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 401 titik, disusul Lamandau 374 titik, Kapuas 365 titik, dan Katingan 356 titik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli 2026.
Selain mencatat hotspot terbanyak, Kotim juga menempati posisi kedua dalam jumlah penanganan karhutla dengan 96 kejadian. Luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 188 hektare.
Sementara itu, frekuensi penanganan kebakaran tertinggi tercatat di Kota Palangka Raya dengan 199 kejadian. Adapun luasan kebakaran terbesar berada di Kabupaten Sukamara yang mencapai 138,2 hektare dari 237 titik panas yang terpantau.
Menurut Toyib, meningkatnya jumlah titik panas dipicu kondisi cuaca kering yang menyebabkan vegetasi semakin mudah terbakar sehingga api cepat meluas.
“Kami melihat pergerakan api sangat cepat akibat vegetasi lahan yang mulai mengering. Seluruh satgas, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, diinstruksikan mempertahankan status siaga penuh,” katanya.
Secara keseluruhan, BPB-PK Kalteng mencatat sebanyak 2.844 titik panas dan 563 kejadian karhutla di seluruh wilayah Kalteng sepanjang 1 Januari hingga 19 Juli 2026.
Meski laporan dari kabupaten dan kota mencatat luas lahan terbakar mencapai 852,58 hektare, hasil verifikasi menggunakan citra satelit dan ground check Manggala Agni menunjukkan luas wilayah terdampak kebakaran telah mencapai 3.069,52 hektare.
“Total luasan wilayah yang terdampak kebakaran sebenarnya telah menembus 3.069,52 hektare,” ujarnya.
Toyib menambahkan, penanganan karhutla terus dioptimalkan dengan dukungan 94 personel gabungan dan empat unit helikopter water bombing. Hingga saat ini, dampak terhadap kesehatan masyarakat masih terkendali.
“Di tengah kepungan titik api tersebut, kami memastikan dampak terhadap kesehatan masyarakat hingga saat ini masih berada dalam batas aman,” pungkasnya.
(Sya'ban)












