“Dibawah kepemimpinan tukang sablon ini, DPD PAN Kota Palangka Raya telah mencatatkan sejarah emas dengan menang hetrik (menang tiga kali berturut-turut) di Pilwalkot Palangka Raya…
Oleh: Alfrid Uga Gara, SE
WAKTU pertama kali saya mengenal sosok pria ini pada tahun 1995. Tahun itu, tahun saya masuk Fakultas Ekonomi, Universitas Palangka Raya (UPR).
Secara kebetulan sosok pria murah senyum ini satu fakultas dengan saya. Angkatan kuliah saya dan dia terpaut jauh. Boleh dikatakan senior saya.
Kami mulai akrap sajak saya masuk organisasi mahasiswa. Nama organisasi itu, Comodo Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) FE UPR. Bukan satu angkatan.
Di buku register Comodo Mapala FE UPR, pria ini dicatat dengan NRA:CMD.0084/MRH.90. Sedangkan saya NRA: CMD. 0137/RGS.96. Artinya angkatan kami berdua terpaut enam tahun.

Meski angkatan kami terpaut jauh. Sebagai junior saya paling akrap. Bukan klaim, tapi mungkin karena kami ada kesamaan. Hemmm… Jika ketemu ngucapkan salam yang amat khusus, salam “HAHHHHH…..!!”.
Pria kelahiran Palembang, 6 Juni 1971 ini meski telihat pendiam. Bukan berarti tidak bisa marah. Wajar manusiwai. Juga bukan berarti tidak ada selera humornya.
Bagi yang sudah kenal dekat, pasti sudah mengenal kepribadiannya. Selera humornya cukup bagus. Amat bagus. Orangnya juga mudah bergaul.
Pandai membangun relasi. Penuh tanggung jawab dan konsisten. Tidak heran, usaha Sablon yang dirintisnya sejak masih berstatus mahasiswa maju pesat saat ini.
Meski sempat mengalami pasang surut. Seperti kuliahnya yang juga sempat pasang surut. Maklum, anak MAPALA (mahasiswa paling lama) plus tukang sablon.
Untuk Kota Palangka Raya dan Sampit, Kotawaringin Timur sudah akrap dengan Sablon Syailendra. Nama usaha yang diambil dari nama belakangnya sendiri, Beta Syailendara.

Dulu saat merintis usaha sablonnya menempati Ruko kontrakan di Komplek Pura, Jalan Kinabalu, Bukit Hindu. Luas Ruko kontrakan, kira-kira 3×4 M.
Bisa dibayangkan, betapa kerasnya perjuang hidup anak rantau ini. Dia tinggal di Ruko kontrak tidak sendiri. Ada ayahnya dan ketiga adiknya. Dua laki-laki, satu perempuan.
Untuk menambah penghasilan keluarga, ayahnya membuka dagang kecil-kecilan di Gerobak Rombong 1×2 meter. Tempatnya tidak jauh dari Ruko Kontrakan.
Meski dengan ekonomi yang pas-pasan. Tidak menyurutkan semangat ‘anak rantau' ini bersama ketiga adiknya sekolah. Keempat-empatnya, lulus perguruan tinggi.
Setelah menamatkan kuliah di FE UPR. Ayah dari anak semata wayangnya Alif Gibrannur Syailendra, hasil pernikahannya dengan Zaidah asli warga Kota Palangka Raya, mulai serius menggeluti usaha jasa sablonnya.

Suntikan modal dari lembaga pendanaanpun ia dapatkan untuk mengembangkan usahanya. Sekarang sudah punya Ruko sendiri. Cukup luas di Jalan RTA Milono.
Jenis prodak mulai berkembang, tidak saja melayani jasa sablon tetapi juga membuka jasa konveksi kaos dan lainnya.
Seiring kemajuan teknologi, usaha sablon tidak lagi dibuat secara manual. Sekarang sudah menggunakan digital printing, terutama untuk baliho dan spanduk.
Jika dulu karyawan mengandalkan kedua adik laki-lakinya, kini sudah punya puluhan karyawan. Sistem pengupahanpun sudah jelas. Sementara pengelolaan diserahkan kepada adiknya.
Sebagai pengusaha sablon yang sukses. Nama Beta Syailendra semakin dikenal di kalangan pebisnis muda. Dia didapuk sebagai Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Tengah untuk periode 2009-2012.
“Politik Sablon”
Mengawali karir di partai politik pada tahun 1998. Si tukang sablon yang juga Anggota Comodo Mapala FE UPR ini bersama aktivis lingkungan hidup menggelar aksi di Kantor DPRD Kalteng.
Melalui wakil rakyat di DPRD Kalteng, aksi itu mendesak pemerintah pusat menghentikan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektar.
Salah satu tokoh politik dibalik penolakan tersebut adalah Rinco Norkim, Ketua DPW PAN Kalteng. Almarhum Rinco Norkim adalah tokoh masyarakat Desa Mangkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Barito Selatan.
Desa Mangkatip masuk dalam kawasan proyek ambisius Pemerintah Soeharto untuk mencapai progran swasembada pangan yang akhirnya gagal total dan meninggalkan sejuta masalah.
Berawal dari aksi di DPRD Kalteng inilah si tukang sablon itu mendapat tawaran masuk di partai politik. Tawaran itu datang langsung dari Ketua DPW PAN Kalteng, Rinco Norkim yang kala itu masih aktif sebagai Dosen FE UPR.
Pepatah mengatakan “Kesampatan Tak Datang Dua Kali”. Ajakan dari “Sang Penjaga Hutan” itu tak disia-siakan olehnya. Dia resmi jadi kader PAN Kalteng sejak tahun 1998.
Meski tanpa jabatan. Baginya bergabung di partai politik, secara “politik sablon” menguntungkan. Setidaknya dia mendapat pelanggan tetap. PAN membutuhkan jasa sablon untuk pengadaan bahan kampanye, seperi spanduk, baliho dan kartu nama.
Tidak butuh waktu lama. Karir politik si tukang sablon ini beranjak naik. Berawal dari anggota biasa meningkat menjadi Ketua DPC PAN Pahandut untuk masa jabatan 2001-2005.
Kemudian meningkat lagi menjadi Wakil Ketua DPD PAN Kota Palangka Raya untuk masa jabatan 2005-2010. Pada perode 2010-2015 dan 2015-2020 sebagai Ketua DPD PAN Kota Palangka Raya.
Pada Pilwalkot 2008. PAN Kota sebagai pengusung utama, sukses mengatarkan Riban Satia-Maryono duduk di Kursi Walikota dan Wakil Walikota Palangka Raya periode 2008-2013.
Si tukang sablon ini punya andil besar mengantarkan Riban menjadi orang nomor satu di Kota Cantik Palangka Raya. Dia sebagai Skretaris Tim Kampanye.
Padahal pada periode pertama. Nama Riban Satia-Maryono memang tidak diunggulkan. Bahkan kurang dikenal publik. Parpol besar seperti PDIP dan Golkar memilih mengusung calon sendiri.

Pun demikian, pada periode kedua 2013-3018. Riban Satia kembali meraih kursi Walikota Palangka Raya berpasangan dengan Mofit Saptono Subagio.
Lagi-lagi si tukang sablon ini punya andil besar dibalik suksesnya Riban-Mofit. Saat itu dia menjabat Wakil Ketua Tim Kampanye.
Pada Pileg 2014 lalu. Si tukang sablon ini melenggang duduk di kursi Anggota DPRD Kota Palangka Raya. Tukang sablon itu menjabat Ketua Komisi A DPRD Kota Palangka Raya untuk periode 2014-2019.
Meski bukan dari trah atau dinasti politik. Si tukang sablon ini memiliki kematangan dalam berpolitik. Penuh perhitungan. Seperti dia menggoreskan kuas cat di media spanduk atau baliho.
Panjang, lebar dan jumlah huruf dihitung dengan teliti. Ketepatan penulisan huruf atau melukiskan gambar logo sangat diperlukan baginya. Tidak boleh salah.
Jika salah, akibatnya fatal. Bisa merugi besar. Karena kalau salah tidak bisa dihapus. Kecuali mengganti media sablonnya. Demikian halnya bagi dia dalam kontestasi politik lima tahun sekali.
Baginya, ngutak-ngatik pasangan calon kepala daerah penuh dengan perhitungan yang matang. Seperti dia ngutak-ngatik atau menggoreskan kuas cat dipola sablon atau spanduk dan baliho.
Pada Pilkada Kota 2018 lalu, Paslon yang diusung DPD PAN Kota Palangka Raya ini dianggap remeh temeh. Anak muda yang dianggap minim prestasi. Kurang dikenal.
Dannn… dianggap tidak mengerti Kota Palangka Raya. Namun DPD PAN Kota Palangka Raya dibawah kepemimpinan tukang sablon tetap kukuh pada pendiriannya.
Dia juga sudah punya perhitungan yang matang. Pasangan calon yang diusung partai yang dipimpinya bekal memenangkan kontestasi. Meski namanya sendiri sempat masuk dalam bursa pencalonan.
Karena sukses dua kali mendudukan Riban di kursi Walikota. Tukang sablon ini diberi tugas yang berat. Tidak tanggung-tanggung, dia didaulat sebagai Ketua Tim Kampanye.
Dan akhirnyaaa… tukang sablon ini sukses mengantarkan Fairid Naparin-Umi Mastikah duduk di Kursi Walikota dan Wakil Walikota Palangka Raya untuk masa jabatan 2018-2023. Bravo tukang sablon!!

Dibawah kepemimpinan si tukang sablon ini, DPD PAN Kota Palangka Raya telah mencatatkan sejarah emas dengan menang “HETRIK” (menang tiga kali berturut-turut) di Pilwalkot Palangka Raya. (*)
Penulis adalah wartawan beritasampit.co.id yang tinggal di Kota Palangka Raya.












