Memaknai Isra Mi'raj untuk Meneladani Kepemimpinan Rasulullah

Oleh : Yuli Pitriah S. Sos, M.A.P

Masih hangat dalam ingatan sekitar satu Minggu yang lalu tentang terjadinya penembakan kaum Muslim di New Zealand (Selandia Baru) oleh seorang teroris.

Berita tidak kalah mengejutkan juga terjadi di belahan dunia lain yaitu di Afrika, tepatnya di Mali Tengah. Terjadi aksi biadab pembakaran hidup-hidup 134 kaum muslim diantaranya diduga adalah wanita hamil dan anak-anak. Aksi ini dilakukan oleh sekelompok orang yang menyamar sebagai pemburu (25 maret 2019, sindonews.com).

Kita yang berada di Indonesia, khususnya di Sampit . Boleh jadi ada yang merasa ini adalah nan jauh disana, apalah daya kita disini, masalah diri sendiri saja sudah banyak yang penting Sampit aman, berkah..

Yup, betul yang penting Sampit berkah.. Berkah karena di ridhoi Allah SWT dengan terwujudnya ridho ilahi. Yaitu dengan menerapkan aturan NYA secara kaffah.

Terlebih saat ini masih dalam momentum Isra Mi'raj. Yang mana selalu rutin diperingati oleh umat Islam tidak terkecuali di bumi habaring hurung ini.

Oleh karena itu, sudah seharusnya saat ini kita bisa mengaitkan antara yang terjadi di dunia dengan keadaan kita sebagai masyarakat Kabupaten serta sebagai bagian dari umat islam.

Isra mi'raj tidak hanya menceritakan terjadinya perjalanan Rasulullah SAW saja, ataupun turunnya perintah salat semata.

Tetapi lebih dari itu, makna hakikinya adalah bagaimana kita saat ini meneladani kepemimpinan rasulullah sebagai kepala negara dan kepala .

Bukan hanya sekedar pemimpin agama, atau pemimpin sekelas RT saja. Saat ini umat islam tercerai berai dalam negeri-negeri muslim kerap menjadi korban intimidasi ketika minoritas, tetapi dicap intoleransi ketika mayoritas.

baca juga ...  Indahnya Air Terjun Merah di Ujung Pandara

Selalu menjadi korban kebiadapan para teroris dunia. Anehnya sekaligus tertuduh menjadi pelaku teroris. Tak dapat dipungkiri saat ini umat islam terombang ambing, diperebutkan bagai makanan karena negeri-negeri muslim sebagian besar dianugerahi sumber daya alam yang melimpah.

Tapi ibarat anak ayam kehilangan induknya, umat islam tidak mempunyai pelindung dan penjaganya. Hanya terseok-seok menunggu giliran untuk dimangsa.

Inilah saatnya, kita semua berpikir kenapa hal ini terus berulang dari dulu sampai sekarang. Apakah ini hanya sekedar dipahami takdir semata sehingga hanya bisa berdoa seraya menunggu saja akan datangnya pertolongan Allah.

Mali ini adalah bukti kesekian kalinya bahwa umat islam saat ini tidak memiliki perisai, tidak memiliki penjaga untuk melindungi, karena tidak mempunyai pelindung lagi seperti di masa dahulu yang pernah ada. Seperti masa dahulu yang pernah dicontohkan rasulullah SAW, Khulafa Rasyidin, serta Islam seterusnya.

Sampai terakhir 3 maret 1924 diruntuhkan di Turki yang menjadi ibukota Khilafah terakhir di masa itu. Itulah, saat ini yang umat islam perlukan adalah seorang Khalifah, seorang pemimpin umat islam yang akan menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia tanpa sekat-sekat nation state. Tetapi menyatukannya dalam sistem Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. (*)

Wallahu'alam

*Penulis merupakan seorang Dosen di STIH HR Sampit

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!