SAMPIT – Dalam upaya mendukung kesejahteraan petani dan kelancaran distribusi hasil panen, Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) memberikan penghargaan kepada Kepala Perum Bulog Kotim, Muhammad Azwar Fuad, dan Kepala Perum Bulog Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), Budi Sultika. Mereka dinilai telah menunjukkan perhatian nyata dalam menyerap gabah hasil petani di daerah tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah Anggota Komisi II lainnya yang hadir dalam pertemuan diantaranya Supian Hadi, Andi Lala, Hendra Sia, Pardamean Gultom, dan Seto Hadi.
Pihaknya juga membahas persoalan gudang penyimpanan Bulog di Kotim yang dinilai terlalu kecil untuk menampung gabah petani. Apalagi Bulog Kotim saat ini menaungi tiga kabupaten sekaligus, yakni Kotim, Seruyan, dan Katingan, dengan gudang berstatus sewa.
Kondisi itu menyebabkan hasil panen petani Kotim tidak seluruhnya dapat terserap, terutama ketika panen di daerah lain lebih dulu berlangsung dan kuota serapan gabah sudah penuh.
Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyannoor, menyampaikan bahwa langkah Bulog ini sangat strategis dan membantu petani agar hasil panen mereka tidak terbuang percuma.
“Harapan kami ke depan, Bulog bisa berdiri sendiri di masing-masing kabupaten. Jadi serapan di Kotim fokus untuk petani Kotim, begitu juga Seruyan dan Katingan. Dengan begitu tidak ada lagi hambatan karena kuota habis duluan,” kata Akhyannor, Jumat 3 Oktober 2025.
Ia menilai rencana pembangunan gudang baru di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit, merupakan langkah tepat. Pasalnya, wilayah tersebut merupakan sentra pertanian sekaligus dekat dengan fasilitas pengeringan (dryer) terbaru.
Berdasarkan hasil pertemuan dengan Kepala Perum Bulog Wilayah Kalteng, Budi Sultika, Akhyannor menyampaikan bahwa Bulog Pusat siap membangun gudang penyimpanan asalkan pemerintah daerah dapat menyediakan hibah lahan.
“Menindaklanjuti hal tersebut, kami langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Lempuyang. Hasil koordinasi kemarin, mereka menyatakan siap menghibahkan lahan seluas 1 hektare. Kini tinggal pemerintah daerah yang harus lebih aktif menindaklanjuti usulan tersebut,” ujarnya.
Politisi Gerindra itu juga mendorong agar pemerintah daerah menambah hibah lahan hingga 2–3 hektare, sehingga kapasitas penyimpanan lebih besar dan tidak lagi bergantung pada gudang sewaan.
“Kalau ada lahan hibah, Bulog Pusat bisa segera menambah gudang di Kotim. Selama ini mereka hanya sewa, jadi terbatas menampung gabah petani. Kalau berdiri sendiri, serapan bisa lebih lancar dan maksimal,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan serupa juga dialami Bulog Kotawaringin Barat (Kobar) yang menaungi Lamandau dan Sukamara. Karena itu, Akhyannor menekankan pentingnya peran pemerintah daerah agar setiap kabupaten memiliki gudang Bulog sendiri sehingga penyerapan gabah petani tidak lagi terhambat.
(Nardi)












