SAMPIT – Pihak Gereja Katolik Don Bosco menegaskan bahwa pengalaman sebelumnya menjadi alasan mereka keberatan Taman Kota dijadikan lokasi road race. Dalam rapat koordinasi bersama Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa 9 Desember 2025 gereja mengingatkan bahwa kondisi di lapangan sering berbeda jauh dengan komitmen teknis yang disampaikan panitia.
Pastor Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit, RP Yohanes Kopong Tuan menjelaskan bahwa meskipun panitia selalu menjanjikan akses khusus untuk umat dan pasien klinik, realitasnya penonton tetap memadati area sekitar gereja dan klinik.
Bahkan, dalam beberapa penyelenggaraan sebelumnya, pembatas jalan tidak mampu mencegah masyarakat masuk ke area yang seharusnya steril.
“Faktanya, ketika even berlangsung, penonton selalu tumpah ke mana-mana. Mereka mengaku umat gereja agar bisa melewati pembatas, sehingga petugas pun kewalahan mengatur. Kondisi seperti itu tidak bisa dihindari,” ujarnya saat rapat koordinasi, Selasa 9 Desember 2025.
Mereka juga menyinggung kejadian saat penonton memanjat pagar sekolah dan bahkan sempat terlibat adu mulut dengan satpam jaga. Menurut gereja, hal ini menjadi bukti bahwa janji teknis mengenai jalur steril atau akses khusus tidak pernah benar-benar efektif diterapkan.
“Kami sangat menghargai niat baik panitia. Namun pengalaman menunjukkan bahwa pengamanan di lapangan tidak mampu membedakan mana umat yang benar-benar hendak beribadah dan mana penonton yang memaksa masuk,” tegasnya.
Pihak gereja menilai kondisi itu semakin berat karena lokasi klinik menjadi pusat kerumunan. Suara motor, kerumunan penonton, hingga potensi parkir liar menjadi gangguan langsung terhadap ibadah dan pelayanan kesehatan.
“Kami bukan menolak road race, tetapi Taman Kota sudah tidak layak dijadikan lokasi. Realitas di lapangan berbeda dengan rencana yang disusun,” tambah Pastor Yohanes.
Ia juga menegaskan bahwa dasar penolakan pada surat edaran Bupati yang menyatakan bahwa kegiatan skala besar di area depan Klinik Obor Terapung dapat mengganggu pelayanan kesehatan. “Kami menghormati surat itu dan berharap pemerintah juga konsisten menegakkannya,” ujarnya.
Dalam keputusan akhir setelah melalui diskusi panjang kedua belah pihak sepakat lokasi road race tetap di taman kota Sampit dengan sejumlah ketentuan.
Depan klinik juga diberikan pagar pembatas penonton tidak boleh masuk khusus untuk jalur klinik, lokasi start finish serta panggung kehormatan juga dipindahkan dari Yos Sudarso ke Jalan S Parman.
Panitia juga memastikan menjaga ketat agar penonton bisa steril dari depan klinik, memastikan tidak ada pengrusakan fasilitas, serta jam road race menyesuaikan dengan jadwal ibadah umat nasrani. (Nardi)












