SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati mengingatkan para orang tua agar lebih ketat mengawasi serta membatasi anak-anak dalam penggunaan gadget dan permainan game online. Ia menilai, tanpa pengawasan, game daring dapat membawa dampak serius bagi tumbuh kembang anak, bahkan berpotensi menjerumuskan ke pengaruh negatif.
Irawati mengungkapkan, pemerintah daerah baru-baru ini menerima informasi dari aparat penegak hukum Densus 88 yang hadir ke Sampit terkait adanya anak-anak usia SD di Kotim yang terindikasi terpapar paham radikalisme, bahkan ada juga ASN yang terindikasi.
Modus yang digunakan pelaku, kata dia, berawal dari pendekatan melalui game online yang kemudian berlanjut ke komunikasi tertutup melalui grup WhatsApp.
“Anak-anak ini awalnya bermain game online lalu berbincang. Setelah itu diarahkan masuk ke grup percakapan WA, di sana mulai ditanamkan kebencian, kekerasan, bahkan paham radikal,” kata Irawati, Selasa 6 Januari 2026.
Menurutnya, usia anak yang paling rentan terpengaruh adalah rentang 5 hingga 15 tahun. Pada usia tersebut, anak cenderung masih labil, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan mudah terpengaruh lingkungan digital tanpa mampu menyaring konten yang diterima.
Ia menekankan, memberikan gadget kepada anak tanpa pendampingan bukan solusi untuk menenangkan anak di rumah. Justru hal itu dapat membuka celah bahaya yang tidak disadari orang tua.
“Jangan mentang-mentang anak diam di rumah lalu dibiarkan pegang HP terus. Itu justru berisiko,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Irawati mendorong orang tua untuk mengarahkan anak pada kegiatan positif, seperti mengikuti les, kegiatan olahraga, serta aktivitas ekstrakurikuler di sekolah.
Anak-anak, menurutnya, perlu disibukkan dengan kegiatan yang membangun karakter dan kemampuan mereka.
Pemerintah daerah juga berencana memperkuat upaya pencegahan melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah serta koordinasi lintas instansi. Bahkan, ke depan Irawati menyebut akan berkoordinasi dengan Bupati Kotim untuk mempertimbangkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget bagi anak usia sekolah.
“Ini demi melindungi anak-anak kita. Jangan sampai kejadian serupa terjadi di Kotim. Orang tua punya peran utama dalam mengawasi dan membimbing anak di era digital ini,” tegasnya. (nardi)












