PALANGKA RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi melalui berbagai langkah pencegahan, termasuk kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengelolaan sumber daya air.
Kepala BMKG Provinsi Kalimantan Tengah, Sugiyono, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Diseminasi Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di wilayah Kalimantan Tengah yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Senin, 9 Maret 2026.
Sugiyono menjelaskan, berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal sekitar dua hingga lima dasarian dibandingkan kondisi klimatologis normalnya.
“Awal musim kemarau 2026 di Kalimantan Tengah diperkirakan terjadi pada dasarian III Mei hingga dasarian III Juni dengan sifat musim kemarau berkisar antara bawah normal hingga normal,” ujarnya.
Ia menambahkan, durasi musim kemarau juga diperkirakan lebih panjang sekitar dua hingga empat dasarian. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada periode Juli hingga Agustus dengan durasi sekitar 10 hingga 13 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan.
Menurut Sugiyono, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Dengan potensi kemarau yang lebih panjang, perlu adanya peningkatan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah,” katanya.
BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengurangi dampak musim kemarau, terutama di sektor pertanian dan pengelolaan lingkungan.
Di antaranya adalah penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan dan memiliki siklus tanam yang lebih pendek.
Selain itu, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan juga didorong untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui berbagai langkah, seperti revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan operasional energi seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Sugiyono juga menekankan pentingnya menyiapkan mekanisme respons cepat apabila terjadi penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, langkah antisipatif yang dilakukan secara terencana dan terpadu akan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak musim kemarau di Kalimantan Tengah.
(Sya'ban)












