Cuaca Kotim Tak Menentu, Setelah Panas Terik Bisa Hujan Deras

NARDI/BERITASAMPIT - Banjir yang melanda wilayah Sampit karena hujan deras.

SAMPIT – Cuaca di Sampit, Kabupaten Timur (Kotim), dalam beberapa pekan terakhir terasa tidak menentu. Hujan deras yang mengguyur pada satu hari bisa langsung berganti dengan cuaca cerah dan panas terik pada hari berikutnya. Sebaliknya, setelah seharian panas, sore hingga malam hari hujan kembali turun dengan intensitas sedang hingga lebat.

Berdasarkan prakiraan cuaca Kamis 21 Mei 2026, suhu udara di Sampit 32 derajat namun bisa terasa hingga 42 derajat Celsius. Sementara pada sore harinya, wilayah tersebut masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras.

“Kalau dilihat cuaca sekarang, pagi sampai siang bisa panas sekali. Namun sore harinya cuaca bisa langsung berubah mendung dan gelap,” ujar Ilma, salah seorang warga Sampit, Kamis 21 Mei 2026.

Kondisi cuaca yang berubah-ubah ini sebelumnnya dijelaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit sebagai dampak dari fase peralihan musim hujan menuju musim kemarau yang saat ini masih berlangsung di wilayah Kotim.

Kepala Stasiun Meteorologi Bandara H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan berdasarkan prakiraan , wilayah Kotim diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026.

“Kalau berdasarkan prediksi, Juni nanti kita mulai masuk musim kemarau. Sekarang masih berada pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” katanya.

Selain faktor peralihan musim, peningkatan curah hujan dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), yakni fenomena atmosfer tropis yang bergerak dari barat ke timur secara periodik setiap 30 hingga 60 hari.

Fenomena tersebut mampu meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama kawasan Indonesia bagian tengah, termasuk Kalteng.

“Indonesia bagian tengah, termasuk , saat ini terdampak aktivitas MJO. Itu salah satu penyebab curah hujan meningkat dalam beberapa hari terakhir,” jelasnya.

Menurut Mulyono, MJO merupakan fenomena yang normal dalam ilmu meteorologi karena merupakan bagian dari siklus atmosfer global yang terus berulang. Saat fase aktifnya melintasi wilayah Indonesia, potensi hujan dan cuaca ekstrem cenderung meningkat.

“Kalau di meteorologi, MJO itu normal karena merupakan siklus atmosfer yang terus berulang setiap 30 sampai 60 hari. Saat fase aktifnya berada di wilayah Indonesia, maka potensi hujan biasanya meningkat,” ujarnya.

Ia menerangkan, MJO memiliki delapan fase atau kuadran pergerakan. Indonesia umumnya terdampak ketika fenomena tersebut berada pada fase tiga dan empat yang melintasi kawasan Maritime Continent atau wilayah maritim Indonesia.

“Kalau MJO berada di fase yang berdampak ke Indonesia, curah hujan bisa meningkat. Setelah bergerak menjauh dari Indonesia, kondisi cuaca biasanya kembali normal,” ungkapnya.

memperkirakan aktivitas MJO yang saat ini mempengaruhi wilayah Indonesia akan mulai melemah dalam tiga hingga empat hari ke depan.

“Untuk tiga sampai empat hari ke depan masih ada peluang hujan ringan hingga sedang. Setelah itu diperkirakan kondisi cuaca mulai normal kembali dan berangsur menuju musim kemarau,” katanya.

Mulyono menegaskan bahwa aktivitas MJO tidak hanya terjadi saat musim hujan atau masa transisi musim. Fenomena tersebut dapat muncul kapan saja, termasuk ketika musim kemarau sedang berlangsung. (Nardi)




baca juga ...  Perusahaan Dianggap Tutup Pintu untuk Warga Lokal, Lembaphum Kotim Desak Keadilan Ketenagakerjaan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!