SAMPIT – Gereja Katolik Paroki St Joan Don Bosco Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) secara tegas menolak rencana penyelenggaraan kegiatan balap motor (road race) di kawasan Taman Kota Sampit.
Penolakan ini disampaikan karena kegiatan serupa di masa lalu dinilai telah menimbulkan gangguan bagi aktivitas ibadah di gereja dan pelayanan di Rumah Sakit Terapung yang berdekatan.
Ketua Dewan Paroki, Andrianus Salampak, mengaku hingga saat ini pihak gereja belum menerima surat pemberitahuan resmi dari penyelenggara, dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Meski demikian secara tegas mereka menolak, dan penolakan sudah disampaikan mengingat dampak negatif yang pernah terjadi.
“Sampai dengan hari ini kita masih belum menerima surat,” kata Andrianus pada Selasa 11 November 2025.
Ia juga menyebut dasar penolakan juga sudah sangat tegas, karena 2024 lalu sudah ada surat edaran Bupati Kotim bahwa tidak ada kegiatan lagi serupa di Jalan Yos Sudarso atau depan klinik Terapung.
“Sebetulnya kami menolak kegiatan ini, karena dulu pernah Bupati mengatakan bahwa itu terakhir. Terakhir di sini, nanti kita akan pindah ke kilometer 6 sana,” jelasnya.
Lokasi khusus di Kilometer 6 disebut-sebut sudah disiapkan dan tidak mengganggu kepentingan umum. Pihak gereja mempertanyakan mengapa rencana pemindahan ini tidak dijalankan.
“Kenapa di kilometer 6 sana yang tidak dimanfaatkan gitu. Kenapa nggak dipakai? masih di taman kota gitu?. Itu mengganggu umum,” jawabnya penuh tanya.
Selain menghalangi akses, ia juga menyebutkan dampak dari kegiatan road race di Taman Kota Sampit, itu juga menimbulkan kebisingan.
“Kalau kita kegiatan ibadah itu, kemudian kalau malam-malam mereka menyalakan musik itu sepanjang malam. Itu yang mengganggu juga,” keluhnya.

Diakhir wawancara ia berharap agar Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dan IMI konsisten pada janjinya untuk memindahkan event road race ke lokasi yang telah disediakan di Kilometer 6, sehingga tidak lagi mengganggu ketenangan dan pelayanan publik di sekitar Taman Kota.
Sebelumnya Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Angga Aditya Nugraha, menegaskan bahwa event Road Race Sampit sebagai ajang penjaringan atlet menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) tahun 2026.
Menurut Angga, sejak April lalu sejumlah klub otomotif telah meminta agar event ini kembali digelar. Hal itu karena Kotim kini mengalami kekurangan atlet balap terutama di bawah usia 18 tahun.
“Sebenarnya banyak club dan orang tua ingin anak-anaknya dilatih secara profesional agar bisa bersaing di level nasional bahkan internasional. Event ini jadi wadah positif untuk menyalurkan potensi mereka,” ujarnya, Senin 10 November 2025.
Ia menyampaikan, penentuan waktu pelaksanaan event tidak dilakukan secara spontan namun dengan proses pertimbangan yang panjang. IMI Kotim juga harus menyesuaikan dengan hasil musyawarah bersama IMI se-Kalteng.
“Keputusan final dilakukan Oktober lalu, dan disepakati pelaksanaan pada pertengahan Desember 2025. Bulan November dihindari karena ada dua agenda besar lain di Kotim,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait pelaksanaan road race di kawasan Taman Kota yang berdekatan dengan rumah sakit dan rumah ibadah, Angga menegaskan pihak panitia telah lebih dulu bersurat dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, gereja, serta pelaku usaha di sekitar lokasi.
Tujuannya untuk memastikan kegiatan tidak mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan dan ibadah, bahkan pedagang sekitar tidak dipungut biaya.
“Kami bersurat dan melakukan koordinasi langsung dengan rumah sakit dan pihak gereja. Kami pastikan jalur ambulans tetap terbuka dan kegiatan ibadah tetap berjalan,” tegasnya.
Angga menyebut, pelaksanaan event berlangsung selama dua hari, dari Sabtu dini hari hingga Minggu malam, dengan waktu yang diatur sesuai izin pemerintah daerah.
“Kami patuh pada jam izin yang diberikan. Jam 12 malam hari Minggu semua sudah bersih harus sesuai jadwal izin, bila melebihi batas, akan dikenakan sanksi,” katanya.
Ia juga menjelaskan, kegiatan tersebut mengantongi izin dari Pemerintah Kabupaten Kotim, Polres, Dinas Perhubungan, dan Dinas Bina Marga.
Salah satu manfaat yang paling terasa adalah jalan yang digunakan untuk balapan juga akan diaspal, selain itu ini memberi manfaat ekonomi bagi pedagang sekitar, dan tiket yang terjual juga berkontribusi untuk pemasukan daerah.
“Tidak ada pungutan di area usaha masyarakat. Justru banyak pedagang yang diuntungkan. Jalan lintasan diperbaiki, penonton ramai, dan perputaran ekonomi meningkat,” terang Angga.
Ia menambahkan, selama ini untuk mengobati keinginan balapan para atlet, IMI Kotim secara rutin juga melakukan latihan bersama komunitas motor setiap dua bulan sekali di area Dinas Perhubungan. Namun, latihan saja tidak cukup tanpa kompetisi resmi.
“Karena itu, event ini kami jadikan bagian dari pembinaan atlet daerah,” ujarnya.
Event roadrace diharapkan masyarakat bisa menjadi agenda tahunan, karena roadrace di Sampit menjadi yang paling dinantikan masyarakat bahkan luar daerah dari Kalimantan Barat maupun wilayah lainnya.
Angga mengakui, Kotim memang sudah memiliki proyek pembangunan sirkuit balap yang belum selesai sejak 2020 akibat kendala administrasi dan keterbatasan anggaran.
“Kalau nanti kondisi keuangan daerah membaik, kami berharap pemerintah bisa melanjutkan proyek sirkuit itu, sehingga bisa digunakan untuk berlatih maupun even balap,” pungkasnya.
(Utomo)












