Di Tengah Badai 1966: Ketika Jakarta Bergolak dan Orang-Orang Biasa Bertahan Hidup

IST/BERITASAMPIT - Ilustrasi.

Oleh Selamat Purwanto: (Pegiat , Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya)

(Cerita rakyat kecil yang hidup di tengah krisis ekonomi dan pergolakan saat lahirnya Supersemar)

AWAL 1966, ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang nyaris runtuh. Inflasi yang pada 1965 sudah mencapai sekitar 300 persen melonjak menjadi lebih dari 1.100 persen pada 1966. Nilai uang jatuh sangat cepat; harga barang bisa berubah hanya dalam hitungan hari.
Pemerintah sebelumnya bahkan sudah mencoba menahan keadaan lewat kebijakan pemotongan nilai uang pada Agustus 1965—ketika uang Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru. Kebijakan ini tidak cukup menghentikan kenaikan harga. Di banyak tempat, rakyat justru semakin bingung karena uang berubah nilai sementara barang semakin langka.

Di Jakarta, situasi ekonomi itu bercampur dengan gejolak setelah Gerakan 30 September. Demonstrasi mahasiswa, ketegangan , dan perubahan kekuasaan membuat ibu kota seperti berada dalam pusaran besar.

Pada 11 Maret 1966, Presiden Soekarno menandatangani dokumen yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret, yang memberikan kewenangan luas kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Namun bagi kebanyakan orang, krisis itu tidak pertama-tama terasa sebagai perubahan . Ia terasa di tempat yang lebih sederhana: di pasar, di dapur rumah, dan di sawah.

Pasar Jakarta: Harga Beras Seperti Tidak Punya Pegangan

Di pasar-pasar Jakarta pada 1965–1966, pedagang sering harus menulis ulang harga barangnya hampir setiap minggu.

Harga beras, yang merupakan makanan pokok, melonjak tajam. Banyak keluarga harus mengurangi jumlah beras yang dibeli, menggantinya dengan jagung atau singkong.
Di kawasan Pasar Senen atau Pasar Jatinegara, beberapa pedagang menceritakan kebiasaan baru: mereka tidak lagi berani menyimpan banyak stok barang. Jika harga naik besok, stok lama bisa membuat mereka rugi.

Bagi pembeli, situasinya bahkan lebih sulit. Seorang ibu rumah tangga bisa datang dengan uang yang sama seperti minggu lalu, tetapi pulang dengan belanja yang jauh lebih sedikit.
Di warung kopi kecil dekat pasar, percakapan sering berujung pada pertanyaan yang sama:
“Besok harga naik lagi atau tidak?”

Pedagang Kecil di Tengah Ketidakpastian

Bagi pedagang kecil, krisis ekonomi bukan hanya soal harga naik. Ia juga soal modal yang cepat habis.

Seorang pedagang sayur yang biasanya membeli barang dari pemasok subuh-subuh harus mengeluarkan uang lebih banyak setiap hari. Keuntungan yang dulu cukup untuk menabung kini hanya cukup untuk membeli stok berikutnya.

Ada pula pedagang yang mulai mengurangi ukuran dagangan bukan karena ingin menipu, tetapi karena harga bahan baku sudah terlalu mahal.

Banyak pedagang kecil saat itu hidup dari hari ke hari. Jika dagangan tidak habis hari itu, mereka bisa kesulitan membeli barang untuk dijual esok pagi.

Buruh Kota: Upah Tidak Mengejar Harga

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, buruh pabrik merasakan tekanan yang sama.

Upah mereka sering kali tidak berubah selama berbulan-bulan, sementara harga makanan naik hampir setiap minggu.

Beberapa buruh mulai mencari pekerjaan tambahan. Ada yang menjadi tukang ojek sepeda setelah pulang kerja, ada yang membantu berdagang di pasar malam, dan ada pula yang mengambil pekerjaan serabutan di pelabuhan.

Bagi pekerja harian seperti kuli angkut atau tukang becak, keadaan bahkan lebih berat. Ketika daya beli masyarakat turun, penumpang juga berkurang.

Guru dan Pegawai Kecil

Kelompok yang sering terlupakan dalam cerita krisis ini adalah pegawai negeri kecil termasuk guru sekolah.

Gaji mereka tetap, tetapi nilainya terus menurun. Banyak guru harus mencari tambahan penghasilan dengan memberi les privat atau berdagang kecil-kecilan.
Di beberapa kota kecil, guru bahkan membawa hasil kebun atau beras dari untuk membantu kebutuhan keluarga.

Bagi mereka, krisis ekonomi terasa seperti perlombaan yang tidak mungkin dimenangkan: harga terus berlari lebih cepat daripada gaji.

: Panen Tidak Selalu Berarti Tenang

Di Jawa, kabar tentang pergolakan di Jakarta memang terdengar jauh. Namun krisis ekonomi tetap sampai ke sana.

Seorang petani kecil yang baru selesai panen sering menjual gabahnya segera. Bukan karena harga sedang bagus, tetapi karena ia membutuhkan uang sebelum harga kebutuhan rumah tangga naik lagi.

Di pasar , harga kain, minyak tanah, dan sabun juga ikut melonjak. Uang hasil panen yang dulu cukup untuk beberapa bulan kini habis jauh lebih cepat.

Bagi banyak keluarga petani, strategi bertahan hidup menjadi sederhana:
menyimpan lebih banyak hasil panen untuk makan sendiri.

Harapan yang Mengikuti Perubahan

Ketika berita tentang Surat Perintah Sebelas Maret mulai menyebar, banyak rakyat tidak langsung memahami makna politiknya.

Namun kabar tentang perubahan kekuasaan membawa satu harapan sederhana: keadaan mungkin akan menjadi lebih stabil.

Di pasar, di warung kopi, atau di halte bus, orang mulai berbicara tentang kemungkinan harga akan turun jika pemerintah baru bisa mengendalikan ekonomi.
Sebagian berharap keamanan kembali pulih, sehingga perdagangan bisa berjalan lebih lancar.

Sejarah kemudian mencatat lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret sebagai titik balik besar dalam perjalanan Indonesia. Tetapi di balik perubahan kekuasaan itu, ada kisah yang jauh lebih sunyi.

Kisah para pedagang yang menghitung ulang modalnya setiap pagi.
Kisah buruh yang mencari pekerjaan tambahan agar dapur tetap menyala.
Kisah petani yang menjual gabah lebih cepat karena takut harga kebutuhan rumah tangga naik lagi.

Di tengah badai sejarah, orang-orang biasa itu tidak menulis dokumen negara atau memimpin demonstrasi. Mereka hanya melakukan satu hal yang paling penting: bertahan hidup.

baca juga ...  Teliti Sebelum Membeli Barang melalui Online, Diduga Banyak Jadi Korban Penipuan

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!