PALANGKA RAYA – Kondisi geografis desa–desa di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang sebagian besar berada di wilayah terpencil menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng Rachmawati mengatakan kondisi tersebut membuat tidak semua koperasi mampu mengelola banyak unit usaha sebagaimana konsep awal program KDKMP.
“Karena kondisi geografis kita desa-desanya terpencil, jadi setiap koperasi tidak harus mengelola delapan gerai. Cukup memaksimalkan potensi desanya untuk menjadi unit usaha,” ujarnya saat ditemui di Palangka Raya, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, dalam konsep ideal, setiap koperasi dirancang memiliki sedikitnya delapan unit usaha, seperti toko sembako, layanan simpan pinjam, klinik obat, pupuk, agen perbankan, jasa pos, penyaluran gas elpiji, hingga penjualan bahan pokok lainnya.
Namun dalam praktiknya, kondisi wilayah di Kalimantan Tengah membuat penerapan konsep tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan dan potensi masing-masing desa.
Rachmawati menjelaskan, banyak desa di wilayah tersebut memiliki keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur yang mempengaruhi operasional koperasi.
Karena itu, pemerintah daerah memberikan fleksibilitas agar pengurus koperasi dapat mengembangkan unit usaha yang paling relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
“Yang penting koperasi itu bisa berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat di desa tersebut,” katanya.
Selain faktor geografis, pengembangan unit usaha koperasi juga menghadapi kendala dalam menjalin kemitraan dengan sejumlah penyedia layanan dan barang, seperti Pertamina Patra Niaga, PT Pos Indonesia, bank-bank yang tergabung dalam Himbara, hingga Perum Bulog.
Sejumlah mitra tersebut memiliki standar tertentu terkait kelayakan bangunan dan fasilitas yang harus dipenuhi sebelum kerja sama dapat dijalankan.
Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi agar koperasi di desa–desa terpencil tetap dapat berkembang dan membuka unit usaha yang sesuai dengan potensi lokal.
“Kami juga terus mendorong pengurus koperasi untuk melihat peluang usaha yang ada di desanya masing-masing agar koperasi tetap bisa beroperasi,” pungkasnya.
(Sya'ban)












