Solar Subsidi Langka Tak Kunjung Tuntas, Dewan: Jangan Teralihkan oleh Isu Pertalite!

NARDI/BERITASAMPIT - Anggota DPRD Kotim SP Lumban Gaol.

SAMPIT – Isu kelangkaan BBM jenis Pertalite di Kabupaten (Kotim) dalam beberapa hari terakhir menuai beragam reaksi. Antrean panjang kendaraan, terutama roda dua, kembali terlihat di sejumlah SPBU di Sampit.

Menanggapi kondisi ini, Anggota DPRD Kotim, SP Lumban Gaol, menilai bahwa perhatian utama seharusnya tetap tertuju pada kelangkaan solar subsidi yang hingga kini belum ditangani serius oleh pemerintah daerah.

Sedangkan antrean Pertalite dinilai hanya bersifat sementara atau temporer karena keterbatasan pasokan.

“Justru yang seharusnya kita perkuat dalam menyuarakan adalah belum adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah terkait permasalahan antrean Solar subsidi di semua SPBU yang ada di Kotim,” tegas Lumban Gaol, Rabu 4 Juni 2025

Ia menyayangkan sikap pemerintah daerah yang dinilai belum tanggap terhadap persoalan yang sebenarnya sudah berlangsung lama dan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat. Distribusi solar subsidi yang buruk, menurutnya, telah menjadi faktor utama pendorong inflasi di Kotim.

“Pemerintah daerah terkesan tutup mata tutup telinga terhadap persoalan dan keluhan masyarakat selama ini. Padahal, penyumbang terbesar inflasi di Kotim adalah buruknya distribusi Solar subsidi ke pengguna langsung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lumban Gaol menilai dampak dari kelangkaan solar subsidi ini turut menaikkan harga tanah urug yang merupakan material penting dalam proyek-proyek pembangunan di Sampit.

“Hal ini secara langsung mendongkrak harga-harga tanah urug sebagai bahan utama dan sangat banyak penggunaannya dalam pembangunan di Sampit,” tambahnya.

Sementara terkait antrean Pertalite, ia berpendapat bahwa kondisinya masih bersifat temporer. Ia menduga penyebab utamanya adalah keterlambatan pasokan, dan antrean pelangsir tidak separah solar subsidi.

“Kalau Pertalite, antreannya hanya bersifat temporer saja. Kami menduga hal itu karena sedikit keterlambatan pasokan saja,” ucapnya.

baca juga ...  Ini Harapan Legislator Terkait Pelantikan Unsur Pimpinan DPRD Kotim Besok

Menurutnya, praktik pelangsiran Pertalite tidak terlalu marak dibandingkan solar karena secara ekonomis kurang menguntungkan bagi pengecer.

“Kalau penyebabnya pelangsir, kami rasa pengaruhnya masih sangat kecil. Karena varietas harga Pertalite dengan Pertamax hanya terpaut dua ribuan lebih. Tentu akan sulit bersaing di tingkat pengecer pinggir jalan untuk mendapatkan keuntungan yang besar,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, dalam beberapa hari terakhir, antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di Sampit Kotim, akibat kelangkaan BBM jenis Pertalite. Masyarakat mengeluhkan semakin sulitnya mendapatkan Pertalite, sementara pelangsir diduga turut memperparah situasi.

Warga harus berpindah-pindah SPBU untuk mencari Pertalite yang masih tersedia, namun stok kerap habis dengan cepat. Sebagian warga bahkan memilih membeli Pertamax meski lebih mahal, agar tidak perlu antre panjang.

Pihak Pertamina menyatakan bahwa keterlambatan pasokan disebabkan belum sampainya pengiriman dari Kotabaru. Ia menegaskan kondisi ini bersifat sementara dan distribusi diharapkan normal kembali awal bulan mendatang.

(Nardi)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!