PALANGKA RAYA – Setelah sempat tertunda, Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya akhirnya resmi bergulir sejak 9 Juni 2025. Kompetisi sepak bola tingkat kota ini merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Askot PSSI Palangka Raya.
Ketua Panitia Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya, Muhammad Misbah, mengatakan bahwa liga ini telah memasuki hari ketiga pelaksanaan.
“Jadi ini sudah berjalan dari dua hari dari tanggal 9 kemarin dan ini hari ketiga kita melaksanakan,” ujar Misbah, Rabu 11 Juni 2025.
Ia menyebutkan, sebanyak 15 tim berpartisipasi dalam liga tahun ini dari total 18 tim yang terdaftar di PSSI Kota Palangka Raya.
“Tim yang terdaftar di PSSI kota ada 18, tapi tahun ini sampai kita menutup pendaftaran ulang ada 15 yang bersedia mengikuti kegiatan ini,” jelasnya.
Menurut Misbah, tiga tim lainnya memilih mundur karena berbagai alasan, salah satunya terkait kesiapan pemain.
“Tiga tim mengundurkan diri, ada beberapa alasan karena mungkin kesiapan mereka tidak bisa mengikuti, mungkin masalah pemain. Tapi yang jelas mereka tidak siap mengikuti kegiatan kita,” katanya.
Misbah menjelaskan, Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya ini diperuntukkan bagi pemain usia muda. Namun, panitia memberikan kelonggaran dengan tetap memperbolehkan pemain senior untuk ikut bertanding.
“Sebenarnya umur, tapi demi memberikan kesempatan berjenjang karena kita ada beberapa masukan dari anggota klub peserta. Jadi yang boleh bermain lima senior, minimal dua yang tersisa di dalam lapangan,” ujarnya.
Adapun batas usia pemain senior adalah di atas 30 tahun, sedangkan pemain junior berusia mulai dari U-17 hingga 30 tahun. “Jadi senior di usia 30 ke atas, yang junior terdiri dari U-17 sampai 30,” jelasnya.
Kompetisi Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya ini seharusnya merupakan agenda tahun 2024. Namun karena berbagai kendala, pelaksanaannya baru bisa digelar pada 2025.
“Rutin tiap tahun, sebenarnya ini kegiatan tahun 2024,” tutur Misbah.
Selain terkendala waktu pelaksanaan, Misbah mengakui penyelenggaraan liga tahun ini juga menghadapi persoalan fasilitas.
“Kalau problem pasti ada. Pertama secara umum, Kota Palangka Raya tidak memiliki lapangan, itu kendala kami,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Stadion Tuah Pahoe yang biasa digunakan untuk kegiatan sepak bola berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini menyebabkan panitia harus menyesuaikan dengan agenda provinsi.
“Jadi kenapa kegiatan ini mundur, karena lapangan yang standar terbatas. Kalau di Stadion Tuah Pahoe hak Pemprov. Jadi kita terbentur kegiatan provinsi,” tegas Misbah.
Akibat keterlambatan pelaksanaan, tim pemenang dari liga ini sempat kehilangan jenjang lanjutannya karena Liga 4 lebih dulu digelar. Namun, Misbah memastikan bahwa juara Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya nantinya tetap akan mewakili Kota Palangka Raya di Liga 4 Regional Kalimantan Tengah yang direncanakan berlangsung Oktober 2025 mendatang.
(Syauqi)












